Nyai Tjondrolukito legenda pesindhen Kesayangan Bung Karno

STARJOGJA- JOGJA. Nyi Tjondrolukito adalah legenda pesindhen yang sampai sekarang masih dikenang sebagai seniwati yang besar. Lantunan sindhenan Nyi Tjondrolukito selalu memilih syair yang berisi petuah atau nasehat. Baik itu nasehat untuk menghormati ibu bapak, menuntut ilmu, berbakti kepada negara maupun untuk mecintai sesama.

Lahir di Sleman pada tahun 1921 dan meninggal di Jakarta tahun 1997. Suaranya yang khas, harum, denga kekayaan “wangsalan” atau untaian tembang dalam karawitan, membuat sosok ini begitu terkenal, bahkan sejak zaman Hindia Belanda.

Ia isteri Ki Tjondrolukito, seorang abdi dalem Keraton Jogja yang tak hanya mengajar nada-nada kepada isterinya tetapi juga membaca dan menulis karena Nyi Tjondrolukito sendiri tak pernah sekolah.

Tebaran karya Nyi Tjondrolukito dengan uyon-uyon khas Jogjakarta atau “Mataraman” didukung sejak bergabung dalam Kerawitan RRI Jakarta dan rekaman di banyak perusahaan rekaman .Karya Yang terkenal adalah gaya membawakan gending “Kutut Manggung” dan Jineman Uler Kambang, yang sampai sekarang ini masih menjadi panutan semua pesindhen, terutama dalam pagelaran wayang kulit.

Nyi Tjondrolukito dihormati oleh Presiden Soekarno dan disayangi oleh Presiden Soeharto. Bukan hanya kemerduan suara tetapi dedikasinya kepada seni karawitan. Pernah di masa Presiden Soekarno, Nyi Tjondrolukito diminta pentas di Istana Negara. Begitu melihat tata panggung yang menempatkan tempat duduk pesindhen lebih rendah dari penonton sekita ia marah dan menegur pegawai istana.

Untuk mengenang jasa dan kiprahnya memajukan dunia sinden Indonesia, pemerintah Kabupaten Sleman pun mengabadikan namanya menjadi nama jalan. Jalan Nyi Condrolukito digunakan untuk mengganti nama Jalan Monumen Jogja Kembali. Jalan Nyi Condrolukito membentang sejak ruas jalan dari Petinggen_Batas Kota hingga perempatan Monumen Jogja Kembali.(den)

Silahkan bergabung untuk diskusi