Kasus DBD Yogyakarta Menurun, Pengaruh Nyamuk Wolbachia?

STARJOGJA, SLEMAN – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Yogyakarta sepanjang tahun 2017 ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Apabila sebelumnya terdapat 1.705 kasus DBD dengan 13 angka kematian, namun hingga bulan oktober ini terdapat 383 kasus dengan 2 pasien yang meninggal. Menurunnya jumlah kasus tersebut besar kemungkinan dipengaruhi adanya program penyebaran nyamuk berwolbachia yang disebar di 12 wilayah di kota Yogyakarta sejak pertengah tahun lalu. Penyebaran nyamuk berwolbachia masih berlangsung hingga akhir tahun 2019 ini.

Namun begitu Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia, belum berani menyimpulkan penurunan jumlah kasus DBD tersebut berkat program Eliminate Dengue Project (EDP) UGM. Menurutnya, penurunan kasus DBD juga dipengaruhi faktor cuaca dimana curah hujan yang turun tahun ini tidak begitu merata sepanjang musim.

“Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini hasil dari EDP, apalagi penelitian ini masih berlangsung, kalau kita lihat hujan yang turun tahun ini tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kira bisa menjadi faktor menurunnya kasus DBD,” kata Yudiria Amelia kepada wartawan di kampus UGM, Kamis (25/9).

Peneliti Eliminate Dengeu Project (EDP) UGM, dr. Riris Andono Ahmad MPH, Ph.D., mengatakan sejak pertengahan tahun lalu tim EDP menyebarkan 5000 ember yang berisi nyamuk berwolbachia di 430 titik di 12 wilayah di kota Yogyakarta. “Kami juga menyebarkan 430 perangkat nyamuk untuk mengetahui prosentase jumlah nyamuk yang sudah mengandung wolbachia,” katanya.

Menurut Doni, demikian ia akrab disapa, perangkat nyamuk tersebut akan mengumpulkan nyamuk dalam jumlah besar. Setiap minggunya, nyamuk yang terperangkap dalam sebuah tabung akan diambil oleh tim peneliti untuk sampel pengujian nyamuk yang sudah mengandung wolbachia. “Untuk wilayah Tegalrejo dan Wirobrajan hingga saat ini jumlah nyamuk berwolbachia cukup tinggi dan stabil, sekitar 90 an persen dari total seluruh nyamuk di sana sudah mengandung wolbachia,” kata Doni.

Meski demikian, Doni mengatakan pihaknya juga menempatkan 18 relawan yang ditempatkan di 18 puskesmas untuk mendata pasien yang kemungkinan terserang penyakit DBD. Data tersebut menurut Doni sangat berpengaruh dalam penelitian nyamuk berwolbachia. Pengalaman yang mereka dapatkan sebelumnya di wilayah Sleman dua tahun lalu menunjukkan bahwa pasien yang terkena DBD umumnya terjangkit dari wilayah lain yang belum disebar nyamuk wolbachia.

“Hipotesis kita, kalau pun ada kasus, sebagian besar kasus itu datang dari wilayah yang belum ada nyamuk wolbachia,” ujarnya.

Sekedar informasi, pelaksanaan riset nyamuk wolbachia ini sudah bertambah menjadi sepuluh Negara dari sebelumnya hanya lima Negara. Kesepuluh negaratersebut diantaranya India, Australia, Brasil, Kolombia, Vietnam, Srilangka, kepulauan Fiji dan beberapa Negara di kepulauan Pasifik. Namun begitu perkembangan penelitian di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat dibanding yang lain karena adanya dukungan pemerintah daerah dan tingkat penerimaan dari masyarakat yang cukup besar terhadap pelaksanaan riset ini. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Silahkan bergabung untuk diskusi