Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X, Kraton Ngayogyakarta Gelar Ngapem

STARJOGJA.COM, JOGJA – Tingalan jumenengan dalem merupakan serangkaian upacara yang digelar untuk memperingati penobatan (kenaikan) tahta Sri Sultan. Tahun ini, ada rangkaian upacara khusus yang berbeda dengan tahun sebelumnya.

Puluhan abdi dalem hilir mudik menyiapkan prosesi ngapem. Proses pembuatan apem digelar di Pendopo Bangsal Sekar Kedhaton, Kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebuah kuali besar berisi adonan apem disiapkan. Jumlahnya diperkirakan lebih dari tiga kuintal. Adonan tersebut kemudian dibagi kepuluhan sentono dalem (kerabat kraton) dan abdi dalem yang duduk mengelilingi bangsal itu.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Permaisuri Raja Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Hemas tiba. Hemas yang datang mengenakan kebaya berwarna warni, tampak cantik dan berseri. Dia datang didampingi putri-putrinya. Bila Hemas dan putri-putrinya duduk sederet, kerabat lainnya duduk di deretan depan bangsal.

Hemas dan putri-putrinya duduk bersimpuh. Di depan masing-masing ada tiga tungku api dan seorang abdi dalem perempuan yang sigap melayani dan menyiapkan peralatan nusuk apem. Hal yang sama juga diikuti puluhan sentono dalem dan abdi dalem yang lebih dulu duduk mengelilingi bangsal.

Penghageng Tepas Tandha Yekti Gusti Kanjeng Ratu Hayu mengatakan prosesi Ngepem tersebut bagian dari rangkaian acara tingalan jumenengan dalem tahun ini. Prosesi ini dimulai sejak Jumat (13/4/2018).

Saat itu keluarga kraton menggelar Ngebluk sejak Jumat pagi hingga siang hari di Bangsal Sekar Kedhaton. “Ngebluk merupakan kegiatan membuat adonan apem,” kata GKR Hayu di sela-sela kegiatan Ngapem, Sabtu (14/4/2018).

Sama halnya saat Ngapem, prosesi Ngebluk juga dipimpin oleh permaisuri GKR Hemas. Disebut Ngebluk karena proses pengadukan adonan apem (jladren) menimbulkan suara “bluk”.

Setelah adonan siap, prosesi dilanjutkan kesokan harinya dengan Ngapem. “Ngapem merupakan prosesi membuat kue apem,” kata Hayu.

Konon asal kata apem berasal dari bahasa Arab “afwan” yang artinya mohon maaf atau ampun. Apem yang dibuat dibedakan menjadi dua ukuran. Apem biasa berukuran kecil dan apem besar atau Apem Mustaka. Apem mustaka jumlahnya dibuat seukuran tinggi Sultan sedangkan apem kecil menyesuaikan adonan habis.

“Apem dibuat untuk acara sugengan yang maknanya berdoa seraya memohon ampunan,” katanya.

Minggu (15/4/2018) pagi prosesi dilanjutkan dengan Sugengan. Prosesi ini bertepatan dengan hari peringatan atau penobatan Sultan. Pada prosesi Sugengan seluruh kerabat kraton beserta abdi dalem berkumpul di Bangsal Kencana. Didahului dengan arak-arakan, abdi dalem menyiapkan ubarampe labuhan untuk disemayamkan di Gedhong Prabayeksa.

Hayu menjelaskan, puncak acara dalam rangkaian peringatan ini bukan berupa resepsi atau perayaan tetapi selamatan (sugengan) yang digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat DIY.

Setelah sugengan kemudian digelar acara labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Mengingat tahun ini bertepatan dengan tahun Dal maka ada acara khusus berupa Labuhan di Petilasan Dlepih Kayangan, Wonogiri yang hanya dilaksanakan delapan tahun sekali.(DEN/abdulhamid/Harianjogja)

Silahkan bergabung untuk diskusi