Info Kopi

Kopi Pangrango : Prinsip Rasa Bersahaja dari Tanah Sunda (2)

0
kopi menoreh
Kopi Pangrango dari Cianjur (foto : Dewi Gunarto)

STARJOGJA.COM, Kopiku- Malam semakin larut ketika kami terus asik berbincang. Entah apa yang membuat saya begitu menikmati. Bisa jadi karena obrolan ringan namun bermakna, tapi mungkin juga karena saya mendapatkan wawasan baru, atau karena merasa nyaman dengan lawan bicaranya. Entahlah.

“Jangan dikira ga ada susahnya. Tahun 2016 aku ya ngalamin gagal panen. Tanaman Kopi diserang PBKo, Hama Penggerek Buah Kopi. Wah rasanya ga karuan. Kopi yang bagus-bagus, udah merah, kok jebule bolong-bolong. Dijual sih bisa, tapi harganya anjlok.”

“Tahun 2017 gagal lagi. Cuaca ekstrim waktu itu. Bunga Kopi, cantik, banyak, enak dipandangi, eh lah kok trus berguguran. Latihan mental. Tapi untung aku atos. Sifat yang mungkin elek, tapi pada posisi itu malah menjaga supaya tetep semangat. Sedih ga usah kelamaan. Coba lagi. Alhamdulillah tahun 2018 panennya bagus. Bisa dapet 2,2 ton. Belom banyak mungkin kalo dibandingkan dengan yang lain. Tapi ya proses. Pelan-pelan sedang belajar gimana caranya meningkatkan produksi.”

Baca Juga : Kopi Pangrango : Prinsip Rasa Bersahaja dari Tanah Sunda

Ihwal gagal ini, sejauh ingatan, di bulan Oktober 2017 saat kami sempat bertemu, tidak terlihat sedikitpun kesedihan terbersit di raut wajahnya. Sayapun tergelitik untuk mengulik lebih jauh tentang gagal menurut takarannya.

“Merasa gagal kalo nama Kopi Cianjur tidak sampai di telinga pecinta Kopi. Sudah mulai terdengar sih. Terekspos antara lain juga berkat bantuan temen-temen Komunitas Kopi Nusantara. Momennya udah pas lah untuk makin mempromosikan produksi kami. Nah kui lho sing jenenge rejeki pertemanan. Berguna to?”

Sembari mengepulkan asap tipis rokok kesukaannya, Andy meyakini bahwa sejatinya Pemerintah bisa terlibat dalam memajukan industri Kopi di tanah air, sekaligus membantu para petani dengan dana terbatas.

“Pemerintah bisa bantu permodalan, bibit, peralatan untuk petani yang ingin berkecimpung di dunia Kopi. Lha piye, pengin, tapi ga punya modal. Ya ming ndomblong. Pelatihan juga penting. Diajari mulai dari menanam, perawatan, pemupukan, panen sampai perlakuan pasca panennya.”

“Banyak yang belom ngerti bahwa Kopi itu perlu diperlakukan seperti manusia. Metik biji itu kan artinya kita bunuh, padahal di dalamnya sudah ada embrio. Dijemur, itu artinya dibunuh perlahan-lahan. Ya memang sudah prosesnya begitu, tapi kalo pengin layak diminum, ya jangan dijemur di tanah, di aspal. Jangan asal-asalan, metik jemur metik jemur tok.”

Dari beberapa sumber di internet, saya mendapatkan fakta menarik. Ternyata ekspor pertama Kopi Jawa Barat ke Eropa, ditanam di Kabupaten Cianjur. Kopi tersebut mendominasi pasar Kopi dunia, menggeser Kopi Mocha dari Yaman.
Bisa jadi romantisme itulah yang menuntun Andy untuk menentukan pilihannya.
Mungkin. Saya juga tidak mencecarnya lebih jauh.

“Kalo ngikutin selera pasar dari sisi rasa, skala kepuasan 1-5, udah sampai 4 lah produksi kami. Kasih waktu 5 tahun lagi, yakin bisa bikin sampai skala 5. Ga lama untuk ukuran Kopi yang panennya setahun sekali.”

“Pekerjaan rumahnya memang banyak. Petani juga perlu tau ilmunya. Jangan menguasai hulu saja, pertaniannya tok. Tapi perlu mengerti, sukur-sukur memahami cara roasting, menggiling sampai penyajiannya. Edukasi, penting. Itulah kenapa orang-orang seperti kami ini perlu terjun.”

Kopi Pangrango

Dingin kian menggigit.

Sebetulnya sudah beberapa kali Andy mengeluhkan rasa laparnya. Tapi sayang saya ngga pernah paham dengan kode. Pada akhirnya, muncul juga ajakan. “Pindah yuk, sekalian cari makan. Aku tau tempat yang asik.”

Nah, gitu lho. Saya tipe orang yang tembak langsung. Ngomong aja maunya apa. Ga perlu meraba-raba, ga perlu mereka-reka. Kalo salah kan gawat. Sejurus kemudian, jalanan menuju ke arah selatan pusat kota kami lalui. Semesta mendukung. Lalu lintas lancar, selancar ceritanya mengenai kehidupan pribadi.

“Untungnya pasangan paham kesibukanku. Mobilitas yang kesana kemari, kalo ga dapet yang pas, bisa bubar semua.”

“Seneng punya keluarga dan pasangan yang mendukung, makin lengkap karena hobi surfing juga bisa jalan. Berdiri di atas papan, kena ombak dan angin laut. Bahagiaku sederhana kan?”

Tak terasa, sampai juga kami di tempat yang tadi diceritakannya. Seporsi Nasi Telur Dadar dan Es Kopi dipesan. Saya? Dipilihkan Secangkir Coklat Hangat yang katanya jadi salah satu menu andalan.

Obrolan terus bergulir sampai akhirnya minuman yang disodorkan kepada saya pun tandas dan tampaknya juga jadi penanda bahwa kami harus segera mengakhiri pertemuan. Dia juga perlu pergi ke Apotek untuk membeli obat pencahar, gara-gara sembelit 4 hari.

Namun tekad terbersit. Lain kali, saya harus ngobrol lebih banyak, cari ilmu lagi, belajar tentang makna dan arti kehidupan dari sudut pandangnya.

Di akhir tulisan ini, saya harap kita semua menyadari bahwa sesungguhnya Kopi jangan dipandang melulu sebagai industri komoditas potensial semata. Dibaliknya, masih sangat banyak aspek-aspek yang memerlukan perhatian dari banyak pihak.

Jika memang kita ingin dikenal sebagai salah satu negara penghasil Kopi 5 besar dunia, ada baiknya kita juga memikirkan sisi kualitasnya. Karena apalah artinya jika kita bisa menghasilkan biji berlimpah, namun kualitas tidak memenuhi standart pasar?
Edukasi, sosialisasi di tingkat hulu, memegang peranan yang krusial dalam pengembangan industri ini.

Regulasi dan payung hukum di tingkat hilir, wajib adanya. Pemerintah tidak boleh tidak, harus hadir memberikan dukungan.

Bayu

Band Asal Belanda Ikut Pentas Amal Untuk Sulsel

Previous article

Trans Jogja Akan Menambah 10 Halte Baru Yang Ramah Difabel

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Info Kopi