Hindari Gadget saat Marah, Ini Alasannya

0
2
Hindari gadget saat marah
Hindari gadget saat marah (bayu)

STARJOGJA.COM, News – Hindari gadget saat marah memang simpel tapi sepertinya susah. Sebab setiap saat kita tidak bisa lepas dari gawai atau gadget ini. Ternyata sebaiknya tidak mengakses gadget terutama media sosial dalam kondisi marah.

Co Founder Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Aribowo Sasmito mengatakan saat marah sebaiknya tidak menggunakan gadget terutama media sosial.

“Saat marah sebaiknya hindari gawai anda. Jauh-jauh dulu saja,” katanya di Training of Trainers Membangun Ekosistem Anti Hoaks di Jambuluwuk hotel Kamis 2 Mei 2019.

Baca Juga : Pabrik Hoax Buat Masyarakat Harus Hati-hati

Ari menempatkan point jangan marah diperingkat pertama ketika mendapatkan informasi yang belum jelas dalam penyebaran hoax. Sebab, ketika marah maka posisi sebagai orang terdidik, tokoh dan pejabat seolah tidak berlaku.

“Kalo sudah emosi mau setinggi intelektual apapun, mau bertitel-titel dia akan menyebarkan. Yang menyebarkan bukan edukasinya tapi emosinya. Nasihat bijak bilang tahan dulu,” katanya.

Ari mengatakan ketika emosinya yang lebih dominan maka status seseorang sebagai orang terdidik tidak berlaku terutama di media sosial. Ketika dalam kondisi marah sebaiknya tidak menggunakan gawai ataupun untuk media sosial.

“Jaga emosi gampang ditulis susah dijalankan. Jangan pegang HP belakangan menyesal, minta maaf mau hapus sudah discreenshot pihak lain. Ini kan ada anggapan jejak digital memang kejam,” ujarnya.

Ia mengaku memang orang Indonesia lebih rentan ketika sedang marah di media sosial. Terutama ketika berkaitan dengan agama yang disinggung maka orang akan mudah tersulut emosi. Padahal agama dan suku dipakai untuk memecah belah.

“Sesuatu yang sangat sulit. Orang Indonesia orientasi religius dan family. Saat agama dan kekeluargaan direndahkan maka akan terpicu,” katanya.

Tips Bijaksana dapati Hoax

Ari mengatakan selain hindari gadget saat marah langkah lainnya agar tidak ikut menyebarkan informasi hoax atau terjebak dalam hoax adalah memahami literasi digital. Terutama mengerti bahwa internet bukanlah media konvesional yang semua informasinya benar.

“Seolah-olah yang beredar di internet termasuk media sosial itu berita benar. Yang beredar di facebook itu benar. Padahal itu bukan,” katanya.

Banyak informasi palsu yang beredar di beberapa media sosial saat ini. Sehingga masyarakat harus mengerti dari mana sumber berita atau informasi itu didapat.

“Cari sumber informasi valid dari media kredibel,” katanya.

Menurutnya agar selalu hati-hati ketika menerima suatu informasi atau berita yang beredar. Terutama ketika mendapati informasi dengan judul atau kalimat pembuka yang provokatif.

“Cermati alamat situsnya. Kredibel atau tidak. Lalu periksa faktanya. Misal ada foto cek keaslian fotonya,” katanya.

Langkah terakhir adalah mengikuti grup diskusi atau komunitas anti hoaks. Sebab, saat ini banyak kanal atau grup anti hoaks untuk mengerti dan memahami informasi hoaks.

“Ada forum anti fitnah hasut dan Hoax (FAFHH), Fan page Indonesian Hoaxes. Mafindo juga aplikasi cek fakta yaitu Hoax Buster Tools (HBT),” katanya.

Tips lainnya menurut Ari adalah tahan emosi, hindari handphone, verifikasi informasi itu benar dan tidak ikut menyebarkan. Sebab saat ini banyak ungkapan agar segera menyebarkan informasi yang beredar.

“Hindari gadget saat marah. Ada narasi jangan berhenti di anda, viralkan justru kita lakukan kebalikannya. Cukup berhenti dianda. Kalo baik tidak perlu disuruh. Ada tagline tahan emosi. Tahan jari, verifikasi sebelum dibagi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here