EsaiFeature

Alasan Memacu Kendaraan dengan Kecepatan Tinggi

0
kecelakaan maut Bus Sriwijaya

STARJOGJA.COM, Esai РAda yang berbeda ketika melintas di jalanan kota Jogja akhir-akhir ini. Laju kendaraan terhitung tinggi di beberapa sudut kota. Selain volume kendaraan berbeda dengan hari biasanya, tapi tetap saja ada yang berbeda. Pengendara di jalanan di Jogja kok menurut saya agak sedikit lebih cepat memacu kendaraan. Apakah karena sudah ada yang memulai mudik atau karena ingin cepat sampai lokasi.

Tapi tadi malam lalu pagi hari ini melihat pengendara semakin cepat memacu kendaraannya seolah dikejar hantu. Jadi teringat dengan stiker yang ditempel di sepeda motor, ‘Cepet-cepet golek opo, Alon-alon ngenteni opo?’ (Cepat-cepat mau nyari apa, pelan-pelan nunggu apa). Kadang tulisan di sticker sepeda motor itu benar juga. Buat apa kita memacu kendaraan kita dengan cepat seolah kita ini sedang ditunggu fatwa atau ditunggu kehadirannya. Toh sampai rumah juga biasa saja, tidak ditunggu umat atau warga sekampung. Lalu kenapa ya mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi? Sebenarnya ada keinginan untuk meneliti perilaku ini. Pertama, apa motif pengendara itu memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Kedua, alasan utama pengendara itu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Ketiga, apakah tahu akibatnya jika dia melakukan itu di orang lain atau pengendara lainnya?

Keempat apakah ia siap dengan resiko yang akan dialaminya jika kecepatan tinggi itu dapat mengakibatkan kecelakaan. Penelitian awal itu dulu, jika ternyata dari 100 responden sudah ada tentu akan menarik menanti hasilnya.

Baca Juga : 22 Mei itu People Power atau Aksi Massa

Tapi biarlah mimpi meneliti ini seolah angin lalu saja, seperti bau kentut yang kemudian hilang beberapa menit. Sebenarnya saya hanya ingin tahu saja, kenapa setiap lebaran atau saat arus mudik selalu saja banyak korban meninggal dan luka saat di jalan. Setiap tahun jalanan di Indonesia ini seolah meminta tumbal. Jalanan itu ternyata juga merayakan lebaran di sepanjang jalan Indonesia.

Ya, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Pemerintah atau siapa. Kalau zaman dahulu saat masa khalifah Umar saja. Umar merasa sangat sedit saat ada unta terjatuh karena jeleknya jalanan di suatu daerah wilayah kepemimpinannya. Bahkan kepala Umar dijedotkan ke dinding karena merasa bersalah umatnya si unta ini bisa jatuh gara-gara jalan yang tidak mulus.

Lalu kalo di sistem pemerintahan di Indonesia lalu siapa yang bertanggung jawab. Apakah kepala dinas PU, Menteri PU PR, atau Presiden yang bertanggung jawab. Atau yang bertanggung jawab adalah manusia pengendara itu sendiri. Karena memacu kendaraanya terlalu tinggi atau polisi yang tidak memberikan rambu-rambu lalu lintas dengan baik. Siapa yang bertanggung jawab ini?

Bukan masalah besar sih, tapi kalau kejadian serupa terjadi setiap tahun dan selalu meminta korban itu apakah kebaikan, keburukan, ketololan, kebodohan atau keharusan. Berawal dari jalanan yang meminta tumbal akhirnya saya tahu kenapa para pengendara memacu kendaraanya dengan cepat.

Arus Mudik di Jogja Dishub Siapkan Kanalisasi

Previous article

12 Lokasi Parkir Jogja, Mampukah Hilangkan Parkir Liar

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai