Esai

Dangdut Jawa Tembus Anak Milenial via Digital

0
dangdut anak muda
Ilustrasi Konser Dangdut

” Aku ngalah
  dudu mergo aku wes ra sayang
  aku mundur
  dudu mergo tresnoku wes ilang”

STARJOGJA.COM, Esai – Sepenggal syair lagu ” Mundur Alon-alon” ini terdengar riuh di tengah -tengah anak – anak muda pelajar yang tengah berdiskusi soal Jaga Reputasi Sejak Dini yang digelar di berbagai SMA di Bantul. Mereka yang disebut anak milenial itu pun tak malu -malu untuk  menyanyikan lagu dangdut berbahasa Jawa. Kini dangdut jawa menembus batas dengan teknologi.

Adanya teknologi informasi beserta pemanfaatannya juga membuat lagu -lagu Jawa naik Daun berhasil menemukan penggemar barunya. Internet, Youtube, dan Google Translate cukup membantu Didi Kempot, Via Vallen, Guyon waton dan sejenisnnya untuk  menggelontorkan karyannya.Sebaliknya para penggemar dan calon penggemarnya, menjadi lebih mudah untuk saling menemukan.

Dalam rangka menemukan penggemar tersebut, resep yang dipakai mereka ini ternyata sangat sederhana, namun terbukti abadi. Yaitu penderitaan, Kehampaan, Kesedihan, tangisan, kekecewaan, kekalahan, dan akhirnya air mata. Semua itu memang memudahkan untuk menemukan teman sependeritaan . Yup Penderitaan memang lebih mudah untuk dibagi. Manusiawi sekali. Sebatas hiburan, kesedihan juga lebih mudah untuk diperdagangkan.

Baca Juga : Guyon Waton Goyang Dangdut Era Zaman Now

Kita tak bisa lupa kalau di era 80-an lagu-lagu cengeng soal patah hati, ditinggal nikah pun sudah menguasai. Mereka mampu membuat  orang menangis dan juga menderita lewat aneka cerita cinta. Era tersebut terus bertahan hingga kini namun dengan gaya bahasa dan olahan musik yang berbeda. Dangdut Jawa menjadi begitu cair menembus batas usia dan kelas sosial. Didi Kempot dan musisi berbahasa Jawa menjadi penyambung rasa para penggemarnya dalam merilis kesedihan.

Akhirnya, penggemar pun berjoget, dan bernyanyi bersama menyanyikan bait-bait penderitaannya.Larut dalam kesedihan dan pisuhan pada mantan membuat para pejuang cinta itu mengolah air mata. Cerita soal ditinggal pergi, kalah kaya ,tak dapat restu dari orang tua dan diduakan pun menggema dalam sebuah musik yang menghipnotis dan berkata ” Kui lagu ku !!”

Yup, Kesedihan-kesedihan itu tidak serta merta tertunjuk pada basahnya mata yang memerah. Namun malah dirayakan dengan goyangan mendayu, yang mana kesedihan itu cukup diperlihatkan dengan pejaman mata. Kesedihan tetap termaknakan, bergoyang ria tetap dilakukan. Anak milenial pun dengan bangga mengaku sebagai sad boys dan sad girls.

Di tengah era k-pop dan sejenisnya, musik dangdut jawa ini melakukan perlawanan pada arus global. Entah ini hanya sekedar fenomena atau trend sejenak. Namun diakui dangdut mampu meningkatkan kelasnya. Tak lagi erotisme penyanyi yang dijual namun kedekatan dengan cerita kehidupan penikmatnya mampu menjadikan lagu dangdut Jawa ini rasa milenia.

Panggung digital menjadi media besar untuk para musisi lokal mengekspresikan karyanya. Jutaan viewer membuktikan kekuatan mereka dalam mendelivery cerita kepedihan. Kini cerita balungan kere, mundur alon alon , penak konco ataupun ditinggal rabi menjadi sebuah tontonan milenial yang bergoyang dalam kesedihan atau kepedihannya.

” aku mundur alon – alon
  mergo sadar aku sopo
  mung di goleki pas atimu perih
  aku mundur alon – alon
  mergo sadar aku sopo
  mung di butuhno pas atimu loro”

Ada yang pernah seperti ini ?

Bayu

Mencicipi Hidangan Serangga Hadir di Afrika Selatan

Previous article

UGM Raih Juara Lomba Underwater Photography

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai