Masyarakat Indonesia Makin Gemar Dompet Digital

0
dompet digital
250319-EM-BISNIS-5TRANSAKSI jibi/Bisnis/ENDANG MUCHTAR TRANSAKSI PEMBAYARAN DIGITAL Karyawan melintas digerai transaksi pembayaran digital salah satu pusat perbelanjaan , di Jakarta, Senin (25/3). Lembaga riset Morgan Stanley memprediksi jumlah transaksi melalui pembayaran digital akan mencapai US$50 miliar pada 2027. Mengacu data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital atau uang elektronik menyentuh Rp47,19 triliun sepanjang 2018.

STARJOGJA.COM, TEKNO – Masyarakat Indonesia Makin Gemar Dompet Digital. Hasil survei yang dilakukan oleh perusahaan riset pemasaran independen, Ipsos Indonesia terhadap 1.000 responden yang tinggal di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara menunjukkan hal itu.

Survey ini menunjukkan 26 persen responden menggunakan dompet digital karena merasa lebih aman, nyaman dan yakin. Sedangkan 25 persen responden menggunakan pembayaran digital karena memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan mengatakan bahwa pembayaran non-tunai di Indonesia merupakan hal yang sangat positif. Menurutnya ada tiga motivasi besar, kenapa masyarakat beralih menggunakan alat pembayaran digital ini.

Pertama, kata Soeprapto, masyarakat merasa aman karena sudah tidak perlu lagi membawa uang fisik dalam kehidupan sehari-hari. Cukup dengan membawa dompet digital. Motivasi kedua, masyarakat merasa hidupnya lebih mudah dengan keberadaan dompet digital ini.

“Sekarang fun juga beli es dawet di belakang kantor. Habis minum es dawet kita tinggal scan QR code. Jadi tidak perlu lagi pakai fisik money. Dulu kan harus bawa uang dan belum tentu uangnya besar, tidak ada recehannya. Sekarang sudah tidak perlu dan sangat fun untuk melakukan transaksi yang sifatnya digital,” ujarnya dalam acara Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society,” di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Motivasi terbesar lainnya adalah masyarakat cenderung menikmati pembayaran non-tunai ini karena bisa memperkaya hidup mereka dengan sesuatu hal yang baru.

Indonesia karena masih dalam tahap awal menggunakan dompet digital, kata Soeprapto merupakan pasar potensial untuk bisa sepenuhnya menggunakan transaksi non-tuna, mengikuti negara-negara maju di dunia.

Soeprapto membandingkan Indonesia dengan China di mana sudah 95 persen transaksi di negara itu tidak menggunakan uang fisik.

“Jadi mereka ketinggalan dompet, dia hanya membawa smartphone bisa hidup (dan) melakukan transaksi sehari-hari. Nah di Indonesia belum. Kalau di Indonesia masih separuh saja saat ini. Tapi ini very promising (sangat menjanjikan) buat Indonesia untuk being cashless,” jelasnya.

Studi The Next Cashless Society memfokuskan pada penelitian kebiasaan masyarakat baik milenial dan non milenial dalam menggunakan pembayaran non-tunai. Studi ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online kepada responden online panel dari Ipsos pada Desember 2019 di seluruh Indonesia.

Berdasarkan tempat tinggal, 66 persen dari 1.000 responden tinggal di Jawa, 21 persen tinggal di Sumatera, 6 persen di Kalimantan, 4 persen bermukim di Sulawesi, Bali 4 persen dan 1 persen di Nusa Tenggara.

Hasil survei menunjukkan bahwa kebanyakan konsumen tidak hanya menggunakan satu jenis dompet digital. Sebanyak 47 responden mengaku menggunakan tiga jenis atau lebih dompet digital dan 28 persen menggunakan dua jenis. Sedangkan responden yang hanya menggunakan satu jenis dompet digital berkisar 21 persen. Dompet digital yang paling sering digunakan adalah Ovo dan Gopay.

SUMBER : VOA INDONESIA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here