Rumah Jadi Sekolah atau Madrasah Pertama Anak

0
Rumah sekolah pertama anak
Bu Daswatia dan Bpk Dachlan (bayu)

STARJOGJA.COM, Info – “Rumah madrasah (sekolah) pertama anak, peran orang tua membentuk anak paripurna bagus pengetahuannya, karakternya, beradab, peran orang tua yang pertama. Sekolah itu mensupport rumah tangga. peran masyarakat mensuport. Liat kualitas orang tua liat kualitas anaknya karena pendidikan pertama dilakukan orang tua,” kata Daswatia Astuty Dahlan Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Kemendikbud RI di Museum Dewantara Kirti Griya beberapa waktu lalu.

Daswatia yang menulis buku “Dari Kisah Nyata Ayah H.Moh. Dahlan” mempercayai bahwa rumah tangga atau keluarga akan membentuk pribadi anak. Hal ini ia rasakan sendiri, terutama bagaimana berinteraksi dengan orang tua. Ia pun yakin bahwa rumah tangga adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak.

“Fungsi rumah tangga itu tempat rekreasi rumah tangga selalu dibikin menyenangkan sehingga selalu ingin pulang ke rumah karena rumah itu tempat menyelesaikan masalah. Ayah ibu yang mau menerima kita dalam kondisi apapun itu tempat refleksi,” katanya.

Baca Juga : Hari Pertama Sekolah, Lakukan ini Kepada Anak

Ia teringat ketika keseruan di dalam rumahnya ketika merayakan peringatan sesuatu. Seperti saat merayakan 17 Agustus, dimana rumah didekorasi sebaik mungkin dan menyanyikan lagu perjuangan.

“Nyanyi 17-an, kita baca puisi, nyanyi juga sampai sekarang, saya tahu kalo ibu menyebut satu baitnya kita harus menyambung baitnya. Berkibarlah benderaku lambang suci, Pasti kita sambung, jadi heboh,” katanya.

Daswatia mengatakan jika pendidikan itu tanggung jawab orang tua dan tidak boleh dipindahtangankan. Bahkan sampai saat ini ayahnya yang sudah berusia lanjut masih menemani dan mendampinginya kemana saja.

“Tidak banyak (orang tua yang menemani anaknya sampai tua) itu, melatih anak tidak banyak memang saya latih. Karena sekarang tidak resmi tapi non formal seperti ini,” kata Ayah Moh Dahlan yang menemaninya di Museum Dewantara Kirti Griya.

Dahlan menceritakan ketika anaknya yang pintar menghapal diketahui tidak bisa membaca. Mengetahui anaknya tidak bisa membaca dari beberapa temannya tentu akan membuat anak kecil hati. Namun ia justru membesarkan hati anaknya karena kejadian ini.

“Itu inspirasi sendiri, kemampuan sendiri untuk membuat anak ini, karena cinta kasih karena anak dengan kekurangannya (tetapi) merasa diberi kelebihan. Meningkatkan kemampuan diri, percaya diri karena mau jatuh kita angkat dia,” katanya.

Mohammad Dachlan mengatakan prinsipnya mendidik anak adalah mengetahui potensi anak lalu mengarahkan sesuai dengan potensinya tersebut. Hal ia lakukan karena ia sebagai orang tua harus menjaga anaknya karena anak adalah titipan dari Tuhan.

“Rasa tanggung jawab daripada Allah bahwa anak itu titipan, amanah untuk dilaksanakan dengan baik jika tidak dilaksanakan maka itu ada satu dosa yang kita akan didapatkan maka rasa tanggung jawabnya yang tinggi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here