Ini Modus Gelandangan dan Pengemis Kumpulkan Bantuan

0
gelandangan dan pengemis
JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) provinsi DI. Yogyakarta mengamankan pengemis yang terjaring saat operasi penertiban gelandangan pengemis (gepeng) di jalan Argolubang, Lempuyangan, Yogyakarta, Jumat (14/08/2015). Gelandangan dan pengemis banyak berdatangan pada hari Jumat, seiring banyaknya warga yang bersedekah pada hari tersebut. Masyarakat dihimbau untuk menyalurkan sedekah maupun pemberian lain melalui lembaga amal mapun sosial agar lebih tepat sasaran.

STARJOGJA.COM. JOGJA – Ada beragam modus Gelandangan dan Pengemis Kumpulkan Bantuan di momentum ramadhan di Yogyakarta. Wilayah ini masih jadi destinasi para Gepeng mengumpulkan pundi-pundi ekonomi.

Kepala Dinas Sosial Jogja, Agus Sudrajat mengatakan modus gelandangan dan pengemis itu dilakukan dengan membawa gerobak dan duduk di lintasan trotoar . Ini masih jadi modus yang kerap ditemui hingga saat ini. Tak jarang, para Gepeng bawa serta keluarganya saat tengah beroperasi.

“Mereka berharap bantuan sosial yang kerap diulurkan dari para dermawan di kala Ramadan, terlebih saat pandemi Covid-19 ini,” jelas Agus saat dihubungi Jumat (22/5/2020).

Bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinsos Jogja mencatat asal muasal Gepeng yang terjaring. Hasilnya cukup mengejutkan, mayoritas Gepeng yang tertangkap berasal dari luar daerah. Sementara Gepeng asal DIY sangat minim, meski masih ada.

“Saya heran, asalnya dari luar DIY tapi bisa bawa gerobak dan semacamnya, ini seperti ada yang mengkoordinir,” jelasnya.

Bukan tanpa alasan, para Gepeng luar kota datang ke Jogja. Banyaknya bantuan sosial dan sedekah para dermawan yang dibagikan di jalan ditenggarai jadi sebab musabab Gepeng luar daerah berbondong-bondong masuk ke Jogja.

Faktanya, dari hasil temuan Agus, bantuan sosial yang umumnya sembako ini selanjutnya ditimbun kemudian dijual lagi. Menurutnya, bila yang bersangkutan memang tidak mampu, bantuan sosial yang didapatkan akan digunakan untuk makan sehari-hari. Namun dari temuan yang ada, Gepeng malah menjual kembali sembako yang diberikan agar memperoleh uang.

Kepala Satpol PP Jogja, Agus Winarto tidak menampik adanya fakta di lapangan bahwa banyak Gepeng berasal dari luar DIY. Selama Ramadhan melakukan razia, bahkan dia mendapati Gepeng asal Lampung dan Cirebon.

“Alasannya bermacam-macam, ada yang ngakunya kecopetan ndak bisa pulang, terus ada Covid-19 ini dan lain sebagainya,” tutur Agus.

Selain menggunakan gerobak dan hanya lesehan di trotoar, Agus Winarto juga temui modus jadi pemulung.

“Ngakunya mulung, tapi saat diamati hanya diam di tempat tidak mencari barang pungutan, namanya pemulung itu muter nyari barang,” jelasnya.

Tak hanya alasan kecopetan, Agus Winarto juga menemukan Gepeng asal DIY yang kesehariannya berprofesi buruh harian lepas. Namun orang tersebut memanfaatkan situasi menjadi Gepeng di jelang lebaran ini.

“Kalau mau berbuka puasa, jumlah Gepeng makin banyak,” ujarnya.

Tidak tanggung-tanggung, Agus Winarto menyebut dalam satu kali operasi pernah mengamankan setidaknya 23 orang Gepeng. Jumlah tersebut paling banyak, adapun rerata harian pihaknya bisa mengamankan kurang lebih lima orang Gepeng.

” Para Gepeng ditangkap dari berbagai lokasi, seperti seputar Stadion Mandala Krida, Stadion Kridosono, Jln. M. T. Haryono, Jln. Adi Sutjipto ke arah barat, dan lokasi lainnya,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here