FeatureNews

Arti Menulis Bagi Raihan Robby, Juara Puisi Tingkat Asia Tenggara

0
Raihan Robby juara puisi
Raihan Robby juara puisi (Rizqi)

STARJOGJA.COM, Info – Kebiasaan Raihan Robby dalam menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar menghadirkan sesuatu yang baik. Raihan Robby mahasiswa jurusan Sastra Indonesia UNY ini telah banyak memenangkan lomba seperti juara II lomba cipta puisi se-Asia Tenggara.

Tak hanya itu, dalam waktu yang hampir bersamaan Robby juga memenangkan lomba cipta puisi Ngayogyasastra se-DIY sebagai juara II dan lomba naskah drama dalam acara Festival Sastra UGM sebagai juara II tingkat nasional.

Dari sekian banyak alasan untuk menulis, Robby memaparkan alasan-alasannya dalam menulis.

Baca juga : Hari Puisi Nasional ini Kata Penyair Joko Pinurbo

“Aku menulis untuk self healing, terus aku rasa aku butuh untuk menulis dalam arti kebutuhan untuk wilayah financial, selanjutnya kebutuhan branding untuk rekam jejak dan yang terakhir menulis sesuai caraku memandang atau merespon hal-hal di sekitarku,” ungkap Robby saat diwawancarai, Jumat (16/10/20).

Tentu saja remaja kelahiran Jakarta ini memiliki perjalanan yang tak mulus, ia tak mendapat dukungan dari beberapa orang termasuk juga keluarga dekatnya, ia rasai juga pernah mendapat bully-an karena tulisan tangannya yang jelek. Pernyatan tersebut dilontarkan sendiri oleh gurunya saat duduk di bangku Sekolah Dasar.

Tak terima akan hal itu, tak membuat Robby membalas perkataan tersebut dengan hal yang tak mengenakan juga. Ia justru membalasnya dengan menulis menggunakan cara yang modern sejak ia SMA.

“Genre yang biasanya aku tulis fiksi, kalau dari SMA lebih fokus ke puisi, terus lanjut explore ke cerpen dan naskah drama. Sempet nulis novel sama cerita anak tapi berhenti, belum bisa lanjut lagi,” terangnya.

Dalam proses menulis karya sastra, puisi lebih mencerminkan dirinya karena menulis menggunakan hati. Sedangkan cerpen menggunakan teknik dengan menyampaikan ide dan gagasan. Naskah drama lebih explore, karena berangkat dari premis atau gagasan besar yang ia garap dari permasalahan antar tokoh.

Tak cukup satu dua kemenangan yang ia raih menjadikan Robby menjadi haus dalam menulis. Namun, berbagai lomba yang ia ikuti tak selalu mendapat penghargaan. Karena sudah terbiasa dengan kemenangan membuat Robby sempat down.

Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Ia mampu bangkit mengejar ketertinggalan yang ada dalam dirinya.

“Semoga aku bisa merespon diri dan sosial masyarakat. Aku kedepannya pengen nulis tidak karena tuntutan, kayak lomba-lomba yang aku ikutin. Tidak, aku tidak akan meniti jalan pintas seperti itu, walaupun, jalan seperti itu emang realistis,” terangnya.

Robby juga menambahkan harapan tentang dunia kesusastraan, ia mengatakan semoga Sastra Indonesia lebih terbuka lagi kepada siapapun. Sehingga kehadiran penulis-penulis baru, penulis-penulis yang belum terangkat namanya mendapat tempat dalam khazanah Sastra Indonesia.

Penulis : Febryanti ds

Arif Mujiono

Kampung dan Jalan Bugisan dalam Sejarah Prajurit Bugis

Previous article

Kerajinan Gerabah, Harapan Hidup Ngadiem

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature