News

Anak Bali Mengubah Sampah Menjadi Bernilai Jual

0
sampah gunungkidul

STARJOGJA.COM, Info – Anak muda asal Bali bernama Putu Hermawan berkomitmen mengubah sampah menjadi barang bernilai jual. Menggunakan mesin pengolah sampah yang dikembangkannya melalui bisnis Wedoo Workshop.

Bisnis yang dimulai pada 2018 tersebut bermula dari kegelisahannya terhadap permasalahan sampah di Bali yang menjadi salah satu persoalan serius dan begitu mendapatkan perhatian dari para wisatawan dan media, baik lokal maupun asing.

Dari situ dia mencoba mengatasinya dengan membuat teknologi yang diaplikasikan dalam mesin daur ulang yang dapat menghancurkan berbagai sampah, baik organik maupun non organik sehingga mampu membantu meminimalisir volume sampah di Bali.

Baca juga : Ini Perjuangan Berternak Sapi di atas Tumpukan Sampah

Beberapa jenis mesin yang diproduksi Wedoo Workshop antara lain Wood Chipper (penghancur ranting kayu), Organic Waste Mill (mesin pencacah sampah organic), Plastic Crusher (pencacah sampah plastik), Cocopeat / Cocofiber (pengurai serabut kelapa), dan lain sebagainya. Konsumen juga bisa merancang sendiri mesin yang dibutuhkan, dan Wedoo Workshop akan memproduksinya secara custom.

Nantinya sampah yang telah dicacah dan diurai tersebut dapat didaur ulang dan dikreasikan menjadi berbagai bentuk seperti furniture maupun pernak-pernik lainnya. Adapun jasa penggilingan sampah plastik per kilogramnya hanya sekitar Rp2.000

“Wedoo Workshop ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab saya bagi persoalan sosial dan lingkungan. Saya kemudian mencoba mengombinasikan antara kecintaan saya terhadap teknologi dengan permasalahan lingkungan melalui bisnis ini,” tuturnya.

Selain mengembangkan mesin pengelola sampah, Putu juga berkarya memproduksi sepeda yang memanfaatkan penggunaan material bambu. Material tersebut digunakan karena dianggap sebagai salah satu penyerap getaran terbaik dibandingkan material lain yang biasa digunakan sebagai rangka sepeda.

Namun, memproduksi sepeda bambu juga memiliki tantangan tersendiri karena memerlukan proses pengawetan agar tahan lama dan antirayap. Proses produksi yang membutuhkan ketelitian ekstra ini memerlukan waktu sekitar 50 jam untuk pengerjaan 1 unit sepeda.

Untuk hasil akhirnya sepeda bambu ini dapat berbentuk sepeda kayuh ataupun sepeda elektrik.

“Sepeda ini saya kreasikan untuk meminimalisir kemacetan karena saat ini udara bersih di Bali makin minim akibat terpapar polusi dari kendaraan bermotor,” tuturnya.

Tidak hanya dalam bentuk sepeda, transportasi ramah lingkungan juga diwujudkan dengan memproduksi motor listrik sebagai alternatif penggunaan skuter berbahan bakar diesel. Produksi motor listrik ini masih terbatas, sehingga pembuatannya kini masih berdasarkan permintaan.

Untuk lebih mengembangkan bisnisnya secara optimal, Putu juga aktif mengikuti berbagai kompetisi, salah satunya Diplomat Success Challenge pada 2019. “Untuk dapat bersaing di industri, wirausahawan baru seperti saya perlu adanya pendampingan dan mentorship serta memperluas jaringan sehingga memiliki peluang pengembangan bisnis yang lebih besar lagi, di samping tentunya dukungan dalam bentuk modal usaha,” jelasnya.

Dengan target pasar yang cukup niche, Putu menuturkan bahwa bisnisnya menjadi lebih terarah setelah mengikuti dan menjadi finalis pada gelaran DSC X. Sebab, dalam kompetisi tersebut, insting seorang wirausaha benar-benar dilatih menjadi problem solver yang siap menghadapi tantangan apapun.

Ini terbukti di masa pandemi Covid-19 ini ketika banyak pelaku usaha yang mengalami tantangan dan tekanan yang cukup berat, Wedoo Workshop terbilang mampu untuk mengatasinya.

Walaupun terdapat fluktuasi dalam pemesanan akibat tingginya harga bahan baku imbas dari situasi pembatasan sosial, Putu dan timnya berusaha beradaptasi dengan melalukan pemasaran secara daring dan melakukan layanan dari pintu ke pintu jika ada permintaan servis.

Meski terdampak tetapi Wedoo Workshop tetap berkembang dengan baik. Apalagi saat ini masyarakat semakin sadar akan pentingnya lingkungan bersih sehingga kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya pemesanan mesin pengolah sampah.

“Konsumen kami saat ini cukup beragam mulai dari hotel, restoran , yayasan, sekolah, Badan Usaha Milik Desa bahkan perorangan,” ungkapnya.

Sementara itu, dari segi omset, Putu mengakui adanya peningkatan terutama setelah Wedoo Workshop berhasil menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat, seperti dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) dan pejabat desa-desa. Namun sayang, dia enggan menyebutkan dari segi nominal.

“Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan DLHK untuk menyuplai peralatan pengolahan sampah di setiap desa di Kabupaten Tabanan dan Badung, sekaligus memberikan pelatihan menggunakan mesin serta pendampingan,” ujarnya.

Ke depannya Wedoo Workshop berencana berfokus memperkenalkan produk mesin pengelola sampahnya ke seluruh wilayah di Bali, dan juga ke seluruh wilayah di Indonesia.

Sumber : Bisnis

Bayu

Risiko Pengeroposan Tulang Bisa Dikurangi

Previous article

Virtual Office Menjadi Tren, Solusi di Tengah Pandemi

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News