FeatureKab Bantul

Cerita Walgiyanto Pengrajin Keris Asal Imogiri

0
pengrajin keris
pengrajin keris asal Imogiri (Rizqi Febriana)

STARJOGJA.COM, Info – Wajah Walgiyanto (56 tahun) terlihat sangat bersemangat ketika menceritakan pekerjaan yang ditekuninya selama lebih dari 40 tahun. Ketika ditemui di kediamnya, Payaman Selatan, Girirejo, Imogiri, Bantul, ia mengatakan bahwa ia sangat menyukai profesinya ini, yaitu menjadi pengrajin keris.

Hal yang melatarbelakangi Walgiyanto menjadi seorang pembuat keris selain kesukaanya terhadap salah satu benda warisan budaya ini yaitu karena usaha ini sudah turun temurun. Dari orang tuanya dulu Walgiyanto belajar membuat keris hingga bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Dulu orang tua saya juga membuat keris, dan saya mulai belajar membuat keris sejak saya umur 9 tahun,” ucap Walgianto.

Baca juga : Kontroversi Keris Kyai Nogo Siluman

Walgiyanto mengatakan untuk membuat satu buah keris tidak bisa dipatok dengan waktu. Semua tergantung model dan jenis keris seperti apa yang diinginkan.

Setiap jenis dari keris yang dibuat memiliki tingkat kerumitan sendiri-sendiri.

“Kalau lama waktu pembuatannya itu gabisa dipatok mbak, tergantung dari jenis keris yang dari mana. Kan tiap daerah punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Jadi kerumitannya juga sendiri-sendiri,” kata Walgiyanto.

Untuk pembuatan bagian-bagian dari keris sendiri, ia membagi tugas dengan anak-anaknya. Setiap anak mempunyai bagian masing-masing, ada yang mambuat kerangka kerisnya, ada yang membuat kerisnya itu sendiri, dan ada yang membuat hulu atau pegangan keris, dll.

“Semua udah ada bagiannya masing-masing mbak, ada yang buat warangka atau kerangka kerisnya, ada yang buat kerisnya, dll. Pokoknya udah dibagi,” jelasnya.

Keris yang Walgiyanto buat dijual dengan harga paling rendah kisaran Rp 300.000 hingga mencapai jutaan. Harga tersebut ditentukan dari kualitas kerisnya.

Untuk pemasaran dari kerisnya sendiri, Walgiyanto memanfaatkan pasar online. Menurutnya pasar online saat ini memang lebih menunjang dibanding pasar offline. Walaupun dia tetap menggunakan pasar offline tapi prioritasnya adalah pasar online.

Lewat pasar online konsumen yang bisa terjamah pun menjadi luas. Keris yang dia buat pun saat ini sudah dikirim ke beberapa negara seperti Malaysia, Belanda, dan masih banyak lagi.

“Kalau untuk penjualan saya lewat online mbak, alhamdulillah lewat online lebih cepat. Bahkan sudah sampai Belanda. Tapi karena pandemi ini jadi agak susah untuk ngirim, kan banyak yang ditutup pengiriman ke luar negeri” ujarnya.

Selain membuat keris Walgiyanto juga menyediakan seperti perabotan pusaka keris, tombak, pedang, bandik, jagrak, Blawong, Jamsan Pusaka, dsb. Semua tersedia di kediamannya.

Penulis: Risqi Febriana

Arif Mujiono

Sejarah Kali Code di Tangan Romo Mangun

Previous article

Masjid Gedhe Mataram, Wisata Sejarah dan Spiritual

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature