Feature

Manfaat Wolbachia, Turunkan Kasus Demam Berdarah hingga 77%

0
Demam Berdarah Dengue
dr. Citra Indriani, MPH Ahli Epidemiolog WMP Yogyakarta dan dr. Endang Sri Rahayu Kepala Seksi P2M dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta

STARJOGJA.COM, Info – World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta menyatakan penelitian nyamuk ber-Wolbachia dapat untuk menurunkan kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta. dr. Citra Indriani, MPH Ahli Epidemiolog WMP Yogyakarta mengatakan WMP sejak 2015 berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta terbukti programnya dapat menurunkan kasus DBD.

“Tahun ini itu buktinya nyamuk Wolbachia menurunkan kasus 77%, ini dibandingkan diberikan Wolbachia dan yang tidak dikasih Wolbachia. Ini membanggakan karena kami kira mungkin 50% ternyata melampui,” katanya di Starjogja 101,3 FM Rabu (18/11/2020).

Hasil yang mampu menurunkan kasus DBD inilah yang menurut Citra sangat dirasakan masyarakat saat ini. Sehingga WMP akan memperluas manfaat dari penelitiannya dalam waktu dekat.

Baca juga : Hari Kesehatan Nasional 2020, Masyarakat Perlu Lebih Waspada terhadap Demam Berdarah Dengue

“Karena hasil itu di bulan Juli, lalu September dengan dinas didukung pemerintah melepaskan dengan daerah pembanding,” katanya.

Citra menjelaskan pemilihan Kota Jogja sebagai daerah penelitian dan pemanfaatan karena kasus DBD di Jogja sangat tinggi bahkan di rangking 10 Nasional. Namun dengna adanya program WMP Yogyakarta ini saat ini posisi Kota Jogja jauh menurun.

“Kita selesaikan Jogja, selanjutnya rencananya menuju Sleman dan Bantul dengan kasus (DBD) yang tinggi ,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan dr. Endang Sri Rahayu Kepala Seksi P2M dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Menurut Endang sejak kolaborasi dengan WMP kasus DBD di Kota Jogja saat ini berada di posisi paling terkahir di tingkat Kabupaten/Kota di DIY.

“Situasi 2020 hingga saat ini 283 kasus, yang istimewa dari perjalanan kasusnya tinggi lalu turun kita ada di rangking 5 se-DIY padahal sebelumnya rangking 1 atau 2 dan sekarang rangking 5,” katanya.

Endang mengatakan pada tahun 2016 ada 1705 kasus, tahun 2017 ada 414 kasus, tahun 2018 ada 113 kasus lalu tahun 2019 naik 400-an. Semuanya didominasi usia anak SD yaitu 7-12 tahun dan wilayah Umbulharjo paling tinggi.

“Tingkat kecamatan luas wilayah paling banyak dengan 7 kelurahan,” katanya.

Menurutnya masyarakat harus aktif dalam pemberantasan sarang nyamuk untuk menurunkan kasus tersebut. Selain itu pemerintah sudah menggerakkan program 1 rumah 1 jumantik yang harapannya dapat meningkatkan kepedulian masyarakat.

” PSN kalau rajin maka menurun, penularannya itu yang masyarakat tidak selalu kosnsisten PSN, karena itu pengaruh. Kalau rutin ya memang turun. Kalau daerah padat kalau tidak ada sarang nyamuk ya turun,” katanya.

Bayu

Gayo Ngopi, Awal Eksistensi Kopi Gayo di Yogyakarta

Previous article

Cerita Mbah Wahadi Penjual Burger Viral

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature