JogjaKU

Legomoro Kuliner Wajib di Kotagede saat Hajatan

0
Legomoro Kotagede
Subarno, salah satu penjual jajanan pasar di Kotagede menunjukkan legomoro. - Harian Jogja/Hadid Husaini

STARJOGJA.COM, Info – Bagi warga Kotagede Legomoro menjadi makanan wajib saat musim kawin dan hajatan berlangsung. Salah satu penjual jajanan pasar di Kotagede Subarno, warga Kampung Basen, Purbayan, Kotagede sering membuat legomoro dan jajanan lainnya.

Makanan yang terbuat dari ketan ini dijual seharga Rp10.000 per ikat, tetapi di pasar harganya naik menjadi Rp12.000 per ikat. Menurut Suparno, hal tersebut karena legomoro tidak dijual setiap hari. Selain itu juga karena proses pembuatanya yang agak ribet menjadikan harga legomoro layak dijual dengan harga yang lebih tinggi.

“Legomoro bisa dipakai buat suguhan saat ada hajatan, apalagi pas lamaran, legomoro sudah jadi makanan wajib di Kotagede,” ucap Subarno.

Baca juga : 5 Desa Wisata Ter-hits di Bantul

Bapak dua orang anak ini menyampaikan asal nama legomoro sendiri merupakan kebiasaan menjamu dayoh atau dalam bahasa Indonesia berarti tamu. Ketika tamu memakan apa yang disuguhkan pemilik rumah, akan ada rasa lega atau lego karena rasa senangnya.

Meskipun secara bahan legomoro memiliki bahan yang sama dengan lemper, ternyata legomoro memiliki perbedaan. Hal tersebut menurut Subarno terletak pada bentuk dan kemasan nya.

“Secara ukuran legomoro punya ukuran lebih besar, dan kemasannya diikat dengan tali [bambu].”

Subarno mengaku dalam sehari bisa menjual 500 hingga 800 biji legomoro. Bahkan, ia kerap mendapat pesanan dari seseorang untuk dibagikan saat Jumat. “Kalau Jumat biasanya ada orang yang pesan bisa sampai 800 sampai 500 biji, ini saja tenaganya sudah tidak memadai,” ujarnya.

Kemasan Legomoro yang berasal dan daun pisang menjadi tantangan tersendiri. Musim yang ekstrem terkadang membuat suplai daun pisang terganggu.

Untuk menjual jajanan tersebut, Subarno mengaku tidak pernah melakukan promosi seperti kebanyakan penjual konvensional yang lain.

“Kita enggak pernah promosi, yang sudah beli mereka ngenalin ke orang lain, Alhamdulillah pembeli datang sendiri,” ucap Subarno.

Meskipun begitu dirinya tetap melayani pembeli melalui WhatsApp. Subarno mengaku memulai usaha jualan jajanan pasar ini dimulai ketika krisis pada 1998. Pada waktu tersebut Indonesia sedang mengalami krisis moneter yang menyebabkan harga naik. Hal tersebut membuat Subarno dan orang-orang di sekelilingnya yang sebelumnya berjualan kerajinan perak dan tembaga beramai-ramai beralih usaha kuliner.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, dalam Podcast Live bertajuk Apresiasi Kelestarian dan Keterawatan WBCB mengaku sudah mengusulkan tiga makanan tradisional dari Kotagede menjadi warisan budaya tak benda. Makanan tersebut yakni legomoro, kipo, dan ukel.

Istri Suberno, Sumirah atau yang biasa di panggil Bu Menuk, mengatakan pembeli legomoro kebanyakan dari wilayah Kotagede. Sumirah menyampaikan legomoro yang diperuntukkan sajian hajatan tidak disamakan dengan legomoro yang biasa dijual ke pembeli biasa.

“Biasanya kalau buat lamaran harga per bijinya Rp3.000, lebih mahal. kebanyakan kalau legomoro yang lebih mahal dipakai untuk acara lamaran,” ujarnya.

Harga yang lebih mahal dari dari legomoro yang biasa menurutnya disebabkan proses pembuatannya yang lebih rumit dan memakan waktu yang lebih lama. Selain itu, dirinya mengatakan yang perlu diperhatikan dalam produksi legomoro adalah kemasanya. Daun pisang yang digunakan untuk membungkus legomoro tidak sembarangan.

Menurutnya daun pisang yang digunakan harus dari daun pisang kluthuk.

“Harus dari daun pisang kluthuk, Kalau pisang ambon beda lagi. kalau pakai pisang ambon nanti rasanya pahit,” ungkap Sumirah.

Sumirah menyebut daun pisang harus pesan ke penjual daun pisang terlebih dahulu. Dirinya sering memesan daun pisang yang ada di pasar Kotagede atau di Gondomanan yang ia sebut sebagai pusat jualan daun pisang. Meskipun banyak penjual legomoro di wilayah Kotagede, Sumirah meyakinkan legomoro yang ia jual berbeda dari yang lain terutama dari kualitas rasanya. Dirinya menyebut bahwa legomoronya selalu dalam kondisi fresh.

“Kalau legomoro di sini dijual langsung ke pembeli enggak dititipin di pasar,” kata Sumirah.

Dirinya pun tidak pelit untuk membagikan proses pembuatan makanan khas Kotagede yang juga merupakan warisan budaya tak benda ini. Proses pembuatan legomoro diawali dengan merendam ketan paling lama satu jam. Setelah direndam, ketan kemudian dicuci hingga bersih dan dikukus selama setengah jam. Untuk mendapatkan cita rasa yang pas, ketan kemudian diproses dengan cara dikaru atau dicampur dengan santan sehingga rasanya menjadi gurih.

Setelah itu, ketan yang sudah dikaru tersebut kukus kembali selama satu jam hingga benar-benar matang. Proses selanjutnya adalah ketan yang sudah dikukus kemudian diangkat dan dikepeli untuk membentuk legomoro.

Tidak lupa, di dalam legomoro yang dikepal tersebut dimasukkan daging ayam. Proses terakhir adalah membungkus legomoro dengan gaun pisang dan diikat dengan tali dari bambu. Tidak berhenti sampai disitu, legomoro yang sudah dibungkus tersebut dikukus kembali agar aromanya makin meresap.

Darini, salah satu pembeli setia legomoro, menyampaikan dirinya tidak hanya membeli legomoro di tempat Subarno.

“Biasanya kalau beli legomoro enggak hanya satu tempat, tapi paling cocok yang di tempat Pak Barno,” ujarnya.

Ia mengatakan jika jualan legomoro memiliki tahan lama dan tidak cepat basi. Legomoro menurutnya bisa tahan hingga 24 jam.

“Saya kadang juga mengkritik Pak Barno, kok pas nyokot  dua kali isinya belum ketemu [isi ayam],” ucap Darini.

Jika pesanan kurang sesuai dirinya menyampaikan langsung menghubungi Subarno. “Yang membedakan Pak Barno itu kalau sudah mendapat keluhan biasanya langsung diperbaiki,” kata pensiunan guru SMA swasta di Jogja ini.

 
 
sumber : Harian Jogja
Bayu

Jungkook Sukses Bawakan Lagu “Dreamers”

Previous article

Biaya Riil Penyelenggaraan Haji Terus Meningkat, perlu Efisiensi BPIH

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU