Basiyo Maestro Dagelan Mataram

STARJOGJA – JOGJA. Pelawak cerdas itulah predikat yang disandang oleh Basiyo.Basiyo dikenal sebagai pelawak dari Yogyakarta dengan menggunakan bahasa Jawa. Lawakan Basiyo menjadi terkenal di daerah Jawa Tengah melalui siaran radio, televisi (TVRI), dan berbagai rekaman. Lawakannya sering disebut sebagai Dagelan Mataram, sesuai dengan nama acaranya di RRI Yogyakarta.Dalam melawak, ia biasa bersama-sama dengan Sudarsono, Hardjo Gepeng, Supar

Ia bukan hanya pelawak, melainkan juga berhasil memopulerkan jenis gending “Pangkur Jenggleng”, yakni, cara menyanyi (nembang) Jawa yang bisa diselingi dengan lawakan, tanpa kehilangan irama dari tembang yang sedang dibawakan.

Cara memukul gamelan pun, tidak lazim, karena lebih mengandalkan kendang sebagai iringan utama untuk akhirnya pada ketukan (birama) terakhir dipakai sebagai waktu untuk memukul semua alat musik perkusi (terutama saron) sekeras-kerasnya. Meski menggunakan bahasa Jawa dan “produk lama”, nama Basiyo muncul kembali.

Basiyo acap berkolaborasi dengan nama-nama seniman kondang pada dunia dan masanya, seperti Bagong Kussudihardjo, Ki Nartosabdo, Nyi Tjondrolukito, dan lain-lain. Beberapa pengagumnya, seperti budayawan Umar Kayam, pelukis Affandi.

Basiyo diketahui pernah menikah tiga kali. Istri pertamanya bernama Ny. Karto, memberinya 7 anak. Kemudian dari istri keduanya, Ny. Sri Suparti, Basiyo memiliki 5 anak. Sedangkan dengan istri ketiganya, Ny. Pudjiyem, tidak dikaruniai anak.

Pudjiyem-lah yang mendampingi Basiyo pentas di panggung hingga akhir hayatnya.Basiyo meninggal pada tanggal 31 Agustus 1979 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Terban, Yogyakarta.(DEN)

Silahkan bergabung untuk diskusi