KESEHATAN JIWA: Psikolog atau Psikiater, Harus ke Mana?

0
356
cara atasi stres

Star Jogja.LIFESTYLE. Psikolog dan psikiater, kedua kata ini sering dianggap memiliki makna yang sama, yakni orang-orang yang berkecimpung di bidang kesehatan jiwa.

Sebenarnya kedua profesi ini berbeda. Berdasar Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, psikolog diartikan sebagai ahli psikologi. Sementara psikologi berarti ilmu yang berkaitan dengan proses mental baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku atau ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa.

Adapun psikiater adalah dokter yang ahli dalam penyakit jiwa. Jadi, jelaslah bahwa seorang psikiater memiliki latar belakang ilmu kedokteran atau berangkat dari profesi dokter yang kemudian belajar mengenai ilmu psikiatri.

Hal ini dibenarkan oleh Dr. A. A. A. Agung Kusumawardhani, Kepala Departemen Psikiatri RSCM. Agung menyebutkan dasar ilmu yang diasup kedua profesi ini sangatlah berbeda.

“Perbedaannya jelas. Kalau psikolog itu kan mereka dari ilmu behavior ya, ilmu perilaku basic-nya. Sementara, kalau psikiater dari ilmu kedokteran. Jadi, belajar dari gangguan, penyakit, kemudian kita bagaimana mengatasinya. Kalau psikolog mereka belajar dari ilmu perilaku, perilaku-perilaku yang normalnya diterima masyarakat seperti apa sih, seperti itu,” jelasnya kepada Bisnis.com, Kamis (30/3/2017) usai acara Seminar terkait Hari Bipolar Sedunia bertema Gangguan Bipolar Vs Gaya Hidup Modern.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa dalam penanganan pasien, yang berhak memberi obat hanyalah psikiater. Psikolog hanya diperkenankan melakukan sejumlah tahapan tertentu seperti mengadakan tes atau konseling. Namun, ketika pasien sudah membutuhkan penanganan lebih lanjut seperti membutuhkan pengobatan, seorang psikolog biasanya akan merujuk pasien untuk ditangani oleh psikiater.

“Biasanya psikolog tahu kalau ini batasannya, ini sudah perlu obat. Kalau sudah perlu obat, psikolog ga bisa beri obat, dia harus rujuk ke psikiater. Jadi, biasanya psikolog akan membatasi diri di mana kasus-kasus yang bisa ditangani dengan konseling, psikolog akan handle, tapi begitu tidak bisa dengan konseling dia harus ke psikiater,” paparnya.

Agung juga menyebutkan bahwa ada saatnya, pada titik tertentu, psikiter akan bekerja sama dengan psikolog. Tentunya, psikolog dengaan orientasi klinis. Sebab, tidak semua psikolog berorientasi pada masalah klinis. Dalam penanganan, para psikolog diharapkan lebih berperan dalam pelaksanaan tes bagi pasien sebelum mendapat penanganan lebih lanjut dari psikiater.

sumber : bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here