Kab KulonprogoNews

Kekurangan tukang, pembangunan hunian relokasi tidak signifikan

0
Subsidi KPR
Ilustrasi Pembangunan RUmah ( FOTO : Bisnis.com)

Starjogja.com, Kulon Progo – Realisasi pembangunan hunian relokasi bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport di Kabupaten Kulon Progo, baru mencapai 40 persen atau sekitar 80-90 unit dari 173 unit rumah.

“Data dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), bangunan rumah relokasi yang sudah selesai dibangun warga baru kisaran 40 persen,” kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sekretariat Daerah Kulon Progo Triyono, seperti dikutip dari Antara.
Ia mengatakan lambatnya proses pembangunan relokasi tersebut karena masalah ketersediaan tukang dan tenaga bangunan yang kurang mencukupi.

Jumlah tukang relatif terbatas karena pekerjaan dilakukan berbarengan di semua tempat. Sehingga, dalam praktiknya, kadang pendamping warga juga harus memprioritaskan penyelesaian satu rumah dulu apabila ada anak dan orangtua atau kakak dan adik yang sama-sama bangun rumah relokasi.

Triyono mengakui PT AP I sebetulnya sudah meminta warga segera pindah dari lahan yang sudah terakuisisi melalui pembebasan lahan proyek tersebut. Pada rapat koordinasi pembangunan bandara di Kepatihan, Senin (4/9), persoalan ini juga kembali dipertanyakan.

Hal ini dikarenakan kontrak kerja pendamping warga untuk pembangunan relokasi itu sudah akan berakhir sekitar 10 September ini. Dikhawatirkan nasib warga nantinya akan terkatung-katung dalam menyiapkan huniannya.

“Harapan kami dulu, begitu kontrak pendamping itu habis, rumah relokasi juga selesai tapi ternyata masih ada yang ketinggalan. Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu,” katanya.

Koordinator Kelompok Pemukim VI Lahan Relokasi Palihan, Susilo mengatakan progres pembangunan rumah sejauh ini baru sekitar 60-70 persen saja. Beberapa rumah belum dilakukan finishing dan belum siap ditempati pemiliknya.

“Kami menyayangkan belum dibangunnya bidang jalan dan drainase di lokasi perumahan tersebut yang dikhawatirkan bisa menyusahkan warga ketika musim hujan tiba,” katanya.

Dukuh Bapangan, Desa Glagah, Suparjo mengatakan baru sekitar 60 persen dari 40 rumah warga pedukuhannya di lahan relokasi setempat yang sudah selesai dibangun. Beberapa warga masih menyelesaikan pengalusan rumah dan pengecatan maupun membuat dapur untuk area memasak.

“Selain itu, 15 rumah warga juga belum tersambung aliran listrik. Dia mengaku tak bisa memastikan kapan rencana boyongan warga dari rumah lama ke rumah relokasi mengingat belum semua rumah relokasi itu siap dihuni. Kami belum tahu kapan pindahnya,” katanya. (Am)

Kulon Progo surplu produksi ikan lele

Previous article

Masalah pluralisme, perbatasan, dan kewarganegaraan, menjadi faktor terjadinya konflik Rohingya

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *