Health

Kenali Penyakit Silent Killer Happy Hypoxia

0
happy hypoxia
Tenaga medis bekerja di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi

STARJOGJA.COM, Info – Wabah Covid-19 ini memunculkan silent killer happy hypoxia. Erlina Burhan Dokter Spesialis Paru dari RS Persahabatan mengatakan masyarakat tidak perlu panik akan penyakit happy hypoxia, selama mengenali dan memahami betul seperti apa gejalanya.

“Happy hypoxia ini tidak ditemukan di orang sehat, atau pasien Covid-19 yang tanpa gejala. Selama ini hanya ditemukan di pasien bergejala, karena gejalanya batuk menetap dan kondisi pasien yang berangsur melemah tanpa sesak napas,” jelasnya, Rabu (16/9/2020).

Apabila mengalami gejala tersebut, pasien Covid-19 bisa melakukan penanganan awal dengan cara mengukur kadar oksigen dalam darah menggunakan alat pulse oximeter.

Baca juga : Ahli Virologi China Sebut Covid-19 dari Wuhan

Harganya hanya Rp100.000 – Rp150.000 dan bisa ditemukan di apotek atau e-commerce.

Dengan alat tersebut, bisa dipantau kadar oksigen, yang pada orang normal berkisar antara 95-100 persen.

Apabila kurang dari itu, penderita Covid-19 bisa melaporkan langsung ke rumah sakit dan meminta perawatan.

“Tapi buat yang sehat tidak usah beli! Jangan beli, ini hanya untuk yang bergejala saja,” tegasnya.

Kemudian, di rumah sakit, penderita happy hypoxia bisa meminta untuk diterapi oksigen untuk menambah kadar oksigen dalam darah, sehingga tidak sampai terjadi kerusakan organ dalam tubuh.

Sebagai langkah untuk menghindari terkena happy hypoxia, yang pertama adalah jangan sampai terkena Covid-19 dengan patuh melaksanakan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) sesering mungkin.

“Pakai masker itu, kalau ada dua orang dan salah satunya sakit, kalau berdua tidak pakai masker kemungkinan menular 100 persen. Kalau yang sehat pakai masker 70 persen penularannya,” ujarnya.

“Kalau yang sakit yang pakai masker, penularan jadi 5 persen. Tapi kalau yang sehat dan sakit pakai masker risikonya 2 persen, jaga jarak tinggal 0 persen,” jelasnya.

Kemudian, untuk mempertahankan agar penularan tetap 0 persen, tinggal rajin cuci tangan setelah melakukan kegiatan apa pun.

Sementara itu, bagi pasien Covid-19 yang tidak bergejala agar tetap menjaga imun tubuh tetap dalam kondisi baik.

Caranya dengan makan makanan bergizi, minum banyak air putih, mengkonsumsi suplemen dan vitamin, olahraga dan istirahat teratur serta jangan stres.

“Karena kalau stres imun tubuh akan runtuh, penyakit apa pun akan mudah masuk. Usahakan tetap berpikiran positif dan bahagia,” imbuhnya.

Sumber : Bisnis

Bayu

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah Meninggal Karena Covid-19

Previous article

RSD Wisma Atlet Membenarkan Video Antrean Ambulans

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health