News

Resesi Indonesia Semakin Nyata Terlihat

0
investor asing serbu saham Indonesia (Bisnis)

STARJOGJA.COM, Info – Resesi ekonomi Indonesia semakin nyata selama masa pandemi Covid-19 terlihat dari konsumsi masyarakat yang semakin melemah. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang kembali mengalami deflasi pada September 2020.

Deflasi ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi dalam 3 bulan terakhir secara berturut-turut. Terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IHK pada September 2020 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara month-to-month (mtm).

Baca Juga : Indonesia Resesi tapi Tetap Percaya Diri

Sepanjang tahun kalender, IHK mengalami inflasi sebesar 0,89 persen (year to date/ytd). Sementara itu, laju IHK secara tahunan tercatat berada di posisi inflasi sebesar 1,42 persen (year-on-year/yoy).

Sementara itu, inflasi inti pada September 2020 tercatat terendah sepanjang sejarah, yaitu sebesar 1,32 persen ytd. Secara mtm, inflasi inti tercatat sebesar 0,13 persen.

Inflasi yang terjadi selama 3 bulan terakhir ini merupakan gambaran ekonomi Indonesia akan memasuki fase resesi. Pasalnya, konsumsi masyarakat merupakan penggerak terbesar perekonomian Indonesia.

Sejalan dengan terjadinya deflasi, pemerintah memproyeksi konsumsi rumah tangga pada kuartal III/2020 diperkirakan akan terkontraksi pada kisaran -3 persen hingga -1,5 persen.

Dengan demikian, total proyeksi konsumsi Indonesia pada 2020 akan kontraksi pada kisaran -2,1 persen hingga -1 persen.

Pemerintah juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 diperkirakan negatif sebesar -2,9 persen hingga -1,0 persen. Sementara, untuk keseluruhan tahun 2020 ekonomi diprediksi akan terkoreksi -1,7 persen hingga -0,6 persen.

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi mengatakan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini dipastikan akan tercatat negatif secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun, jika dibandingkan secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi pada kuartal III/2020 masih bisa tumbuh positif. Artinya, kontraksi yang terjadi pada kuartal ketiga tidak akan sebesar kuartal kedua.

Eric mengatakan dampak yang nyata terlihat dari resesi ekonomi tentunya terjadi lonjakan pada angka pengangguran dan tingkat kemiskinan.

Meski demikian, Eric mengatakan dampak resesi lebih jauh atau sinyal ekonomi Indonesia yang mengarah pada depresi masih belum terlihat.

“Saya belum melihat kemungkinan depresi. Masih jauh, katanya kepada Bisnis,” Kamis (1/10/2020).

Adapun, berdasarkan definisi The Economist, depresi ekonomi akan terjadi jika PDB suatu negara mengalami penurunan hingga 10 persen, atau resesi yang berlanjut hingga 2 tahun lebih.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, Indonesia dapat jatuh pada jurang depresi ekonomi bila resesi berlanjut hingga 2021.

Dia mengatakan, salah satu indikator depresi adalah terjadinya deflasi yang cukup dalam, di mana harga barang tidak naik melainkan menurun.

“Deflasi juga indikator bahwa resesi ekonomi bisa menjadi depresi. Tahun 1930 ketika terjadi depresi besar indikator utamanya adalah deflasi yang berkepanjangan,” jelasnya.

BPS mencatat deflasi telah terjadi dalam 3 bulan terakhir. Menurut Bhima, jika deflasi terjadi secara terus-menerus, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi hingga kuartal IV/2020 akan mengalami tekanan, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi.

“Semakin lama pandemi teratasi, semakin lemah daya beli masyarakat, dan semakin besar kelas menengah atas saving di bank untuk hindari risiko, katanya.

Tentunya, dampak dari depresi akan jauh lebih besar dari resesi ekonomi. Tidak hanya terjadi PHK massal, kebangkrutan massal di sektor industri secara permanen juga akan terjadi jika ekonomi Indonesia masuk jurang depresi.

Sumber : Bisnis

Bayu

Joe Biden Unggul Polling dari Trump

Previous article

Menggunakan Masker Kain Tidak Lebih dari Empat Jam

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News