FeatureHealth

DAGUSIBU, Terobosan UAD dalam Edukasi Obat

0
DAGUSIBU
Resistensi antibiotik (Humas UGM)
STARJOGJA.COM, Info – Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta meluncurkan program edukasi konsumsi obat secara benar dengan nama DAGUSIBU. Terobosan ini hadir dalam mengawal konsumsi obat masyarakat yang makin meningkat pengetahuannya.

“Kalau saya amati, masyarakat sekarang itu sudah makin pinter. (Karena) berbagai informasi dengan mudahnya diperoleh,” ujar Farida Baroroh, M.Sc., Aptk., dosen Fakultas Farmasi UAD kepada Star FM.

DAGUSIBU sendiri merupakan akronim dari dapatkan, gunakan, simpan, dan buang. Farida menuturkan bahwa konsumsi obat dan vitamin perlu memperhatikan ketentuan dan standar yang berlaku.

“Jadi disini, untuk menggunakan obat baik itu vitamin maupun yang lain, harus sesuai petunjuk aturan pakai yang tertera,” terangnya.

Baca juga : Bupati Sleman Merasa Kecolongan Pabrik Obat Terlarang di Wilayahnya

Farida menyoroti aktivitas transaksi obat-obatan secara daring (online) yang kini marak terjadi. Selain itu, ia pun menyinggung masalah konsumsi vitamin masyarakat di masa pandemi yang melonjak tanpa merujuk pada dosis pemakaian.

“Pada praktiknya, lebih dari 70% masih kita temui masyarakat yang beranggapan begini, kalau tidak pandemi, biasanya saya minum vitamin sehari sekali. Tapi biar imunitas saya naik, saya minum dua kali. Yang seperti ini masih banyak,” kisahnya menyayangkan.

Seperti disampaikan Farida, konsumsi obat perlu memperhatikan 5O, yaitu: Obat ini apa; Obat ini khasiatnya apa; Obat ini dosisnya berapa; Obat ini pemakaiannya bagaimana; serta Obat ini efek sampingnya apa.

“Jadi jangan sampai terjadi kesalahan minum obat atau vitamin,” imbaunya.

Terkait praktik pembelian produk obat dari luar negeri, masyarakat tidak boleh sekadar terbuai pada manfaat atau khasiat yang ditawarkan. Masyarakat perlu memperhatikan berbagai hal seperti dosis penggunaan yang bisa jadi berbeda lantaran perbedaan fisik dan bentang alam.

“Jadi jangan disamakan,” jelas Farida.

Berbekal informasi yang dapat diakses dengan mudah, kecenderungan masyarakat untuk berkonsultasi soal obat semakin jarang. Kini, masyarakat yang datang ke apotek tidak menyampaikan keluhannya atau sekadar meminta rekomendasi obat kepada apoteker.

“Pesan saya, sebaiknya ketika sudah sampai di apotek dengan membawa merek (obat) tertentu, tetap dikomunikasikan kembali kepada petugas,” sarannya.

Salah satu produk obat / vitamin yang dikenal masyarakat luas adalah Vitamin C. Perlu diketahui bahwa vitamin ini memiliki bermacam-macam varian yang harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

“Harus diperhatikan juga kondisi kita masing-masing,” kata Farida.

Secara umum, dalam berbagai petunjuk penggunaan obat, tercantum ketentuan konsumsi setelah makan dan sebelum makan. Hal ini tak lain mengikuti kebutuhan penyerapan tubuh yang dikerjakan oleh lambung.

“Ada yang diminum sebelum makan biar (lambungnya) masih kosong, sehingga efektif penyerapannya. Ada juga yang setelah makan. Tapi semua harus ada jedanya, setengah hingga dua setengah jam,” paparnya.

Dalam kasus pasien yang telah sembuh dan obatnya tersisa, Farida menganjurkan agar obat tersebut dihabiskan. Hal ini ditujukan untuk mempercepat proses penyembuhan dan perbaikan (recovery).

“Memang harus dihabiskan, meskipun kasusnya sudah membaik,” bebernya.

Kemudian, terkait konsumsi vitamin pada anak, orang tua tidak boleh asal-asalan membuat racikan dosis sendiri. Sementara itu, bagi penderita asam lambung tidak perlu ragu untuk mengkonsumsi vitamin.

“Sudah ada sediaan vitamin yang aman digunakan bagi pengidap asam lambung,” ucap Farida.

Penggunaan obat juga perlu mempertimbangkan masa kadaluarsanya. Alhasil, penyimpananya pun harus dilakukan dengan sesuai agar tidak mengalami kerusakan.

“Gampang sekali rusak itu vitamin C, apalagi kalau terkena sinar matahari langsung,” terangnya mencontohkan.

Bagi masyarakat yang akrab dengan konsumsi obat bebas (obat warung), aturan pakai yang dicantumkan perlu ditaati. Jangan sampai terjadi efek samping yang membahayakan.

“Tetap harus diperhatikan aturan pakainya,” tegas Farida.

Sementara itu, dalam kasus pemberian obat pada anak-anak yang lantas dimuntahkan, orang tua tidak boleh gegabah memberikan obat susulan. Orang tua perlu jeli melihat apakah obat sudah berhasil dicerna tubuh atau belum.

“Jangan langsung diberikan kembali, bisa jadi obatnya sudah masuk,” tuturnya.

Farida juga menyampaikan pentingnya membuang obat dengan tepat. Hal ini ditujukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan.

“Jangan sampai, kita penginnya sehat malah jadi sakit,” imbuhnya mengakhiri.

Peulis : Muhammad Imam Khoirul Mutaqin

Bayu

Jokowi Memilih Abimanyu Menjadi Sapi Pilihan Presiden

Previous article

Belum Mahir, Sopir Avanza Menjebol Rumah Warga Bambanglipuro

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature