News

Strategi Ketahanan Pangan di DIY

0
UMP DIY 2024
Sultan HB X (Humas Pemda DIY)

STARJOGJA.COM, Info –  Gubernur DIY Sri Sultan HB X bertemu dengan para petinggi Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Gedhong Pracimosono, kompleks Kepatihan, Rabu (24/8/2022). Pemda DIY memaparkan sejumlah strategi ketahanan pangan untuk dapat diadopsi Wantannas diterapkan di daerah lain.

Salah satu konsep yang dinilai menarik adalah pengelolaan bahan pangan jenis kedelai hingga beras dengan sistem resi gudang (SRG).

Sultan HB X mengatakan dalam kesempatan itu Pemda DIY mempresentasikan di hadapan para petinggi Wantannas soal apa saja yang sudah dilakukan untuk bisa mencapai kemandirian pangan.

Wantannas menyerap terkait dengan konsep kemandirian pangan DIY untuk menjadi bahan masukan ke presiden terkait langkah ketahanan pangan ke depan.

“Ingin membandingkan karena Wantannas bisa langsung merekomendasikan ke Presiden. Beliau menyerap dan melihat di tempat lain apa yang akan direkomendasikan ketika dijelaskan ke Presiden,” kata Sultan seusai bertemu dengan petinggi Wantannas di Kepatihan, Rabu.

Raja Kraton Ngayogyakarta mengungkap, salah satu yang disampaikan terkait dengan kemandirian pangan itu di antaranya program 15.000 hektar yang khusus untuk ditanami tanaman pangan.

BACA JUGA:  Polisi Mewujudkan Ketahanan Pangan dengan Cabai

Meski demikian di luar angka tersebut petani masih memiliki lahan untuk bercocok tanam jenis lain. Sehingga produksi padi DIY sekitar 850 ton per tahun dan masih surplus karena yang dikonsumsi hanya 680 ton.

“Sisanya bisa dijadikan stok pangan, diserap PNS lewat kebijakan beli beras petani. Supaya tidak merugikan tapi bisa menghasilkan padi cukup untuk masyarakat sendiri. Sehingga punya lumbung mataram,” katanya.

Sekretaris Jenderal Wantannas, Laksdya TNI Harjo Susmoro mendorong penerapan SRG untuk menciptakan ekosistem ketahanan pangan kebutuhan antardaerah. Penerapan SRG menjadi penting di era saat ini demi menjaga ketahanan pangan di masa krisis pangan dan meningkatkan taraf hidup petani.

Penerapan SRG menjadi salah satu langkah untuk mencapai sistem ketahanan pangan dan swasembada beras. Akan tetapi selain beras, saat ini pelaksanaan SRG secara nasional telah mencakup 20 komoditas, meliputi pangan pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, maupun pertambangan.

“Tidak menutup kemungkinan di masa krisis pangan ini nantinya komoditi yang dapat disimpan dengan skema SRG akan bertambah. Pemerintah akan mengoptimalkan pelaksanaan Undang-undang nomor 9 Tahun 2006 juncto Undang-undang No.9 Tahun 2011 tentang Sistem Resi Gudang, lewat serangkaian kebijakan,” katanya.

Pemerintah akan menginventarisasi ulang komoditi kategori barang pokok dan vital yang memiliki dampak kepada hajat hidup orang banyak. Kemudian membuka akses pasar bagi produk yang dihasilkan pengelola gudang SRG melalui mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMD) sebagai lembaga pengungkit perekonomian desa.

“Selain itu perlu pengenalan model pembiayaan syariah sebagai alternatif pembiayaan keuangan,” ucapnya.

Pembantu Deputi Urusan Lingkungan Strategis Nasional Setjen Wantannas, Marsma TNI Sugeng Wiwaha menambahkan salah satu keunggulan ketahanan pangan DIY yang sedang diamati Wantannas adalah produktivitas kedelai yang ditangani dengan sistem resi gudang di Bantul.

Cara pengolahan pangan yang efektif seperti jenis kedelai di Bantul ini nantinya akan diupayakan bisa diterapkan di daerah lain. Sehingga bisa sama-sama memiliki ketahanan pangan.

“Kedelai yang DIY ini memang sedang kami amati dan nanti hasilnya akan kami laporkan ke Bapak Presiden sebagai langkah kami selanjutnya di bidang pangan. Semoga bisa ditiru daerah lain, DIY punya keunggulan yang perlu kami angkat,” katanya.

Sumber: Harian Jogja

Berapa Harga Telur di  Kabupaten Sleman?

Previous article

Jalan Gambiran Menjadi Jalan Searah, Kepadatan Akan Turun

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News