HealthLifestyle

DBD Meningkat, Tropmed Talk Minta Penjelasan Kemenkes

0
DBD Tropmed
Nadia menjelaskan demam berdarah dengue (DBD) Tropmed Talk (tropmed)

STARJOGJA.COM, Info – Kuartal kedua 2024, demam berdarah dengue (DBD) tercatat melonjak. Tak tanggung-tanggung, peningkatannya mencapai tiga kali lipat. Tropmed Talk, podcast bulanan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menghadirkan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid untuk membahasnya pada Senin, 29 April 2024 petang.

Ia menjelaskan secara rinci peningkatan tersebut pada podcast yang untuk pertama kalinya dilakukan secara daring itu.

“Padahal kami sudah senang selama 2020-2023 tidak terjadi peningkatan,” jelas dr. Nadia di awal podcast.

Kemenkes mencatat peningkatan terjadi sejak pertengahan Maret tahun ini. Saat itu, peningkatan terjadi di 92 kota/kabupaten. Namun kini peningkatan tersebut dilaporkan telah terjadi di lebih dari 340 kota/kabupaten di Indonesia.

“Secara nasional, angka DBD hingga minggu ini (minggu terakhir April 2024) mencapai 88.593 kasus,” rinci dr. Nadia.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan drastis karena pada periode yang sama di 2023, angkanya hanya berkisar 25 ribu kasus. Serupa dengan angka kasus, peningkatan juga terjadi pada angka kematiannya. Di 2023 tercatat 209 kematian. Namun kini, DBD telah merenggut 621 jiwa.

Mendengar penjelasan tentang peningkatan kasus tersebut, pembawa acara Tropmed Talk, dr. Eta Auria Latiefa menanyakan penyebab peningkatan kasus tersebut. dr. Nadia lantas menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus tersebut ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

“Nah, pada musim-musim seperti sekarang ini populasi nyamuknya meningkat,” jelas dr. Nadia.

Lebih-lebih pada musim pancaroba virus juga menjadi lebih menular (infectious). Selain itu, cuaca yang tidak menentu dan menyebabkan banyak sarang nyamuk juga diduga turut menjadi penyebab peningkatan kasus ini. Perkembangan nyamuk menjadi lebih cepat dari biasanya.

Kemenkes telah melakukan beberapa hal untuk mengantisipasi peningkatan kasus ini. Kepada Sobat Tropmed, panggilan untuk audien podcast Tropmed Talk ini, dr. Nadia menjelaskan bahwa sejak Maret pihaknya telah menyebarkan surat edaran ke daerah-daerah yang mengalami peningkatan untuk meningkatkan kegiatan dalam rangka memutus rantai perkembangan nyamuk. Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar fasilitas kesehatan lebih waspada jika menerima pasien dengan keluhan demam.

“Kalau ada pasien demam ya periksa dulu trombositnya,” pesan dr. Nadia.

Hal ini untuk menghindari keterlambatan penanganan yang dapat berakibat pada jatuhnya korban jiwa. dr. Nadia juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan kasus DBD ke Puskesmas setempat agar dapat dilakukan pemeriksaan kontak dan fogging jika diperlukan. Meski demikian, Ia berpesan bahwa fogging bukan satu-satunya cara untuk mengatasi DBD. Ia lebih menganjurkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menguras, menutup dan mendaur ulang (3M).

dr. Nadia juga menyinggung tentang teknologi nyamuk ber-Wolbachia yang saat ini tengah diimplementasikan di enam kota: Denpasar, Kupang, Bontang, Jakarta Barat, Bandung dan Semarang. Teknologi ini telah terbukti berhasil dilakukan di Kota Yogyakarta.

“Di Kota Jogja juga terjadi peningkatan, namun sangat kecil sekali,” ungkap dr. Nadia.

Dengan keberhasilan itulah saat ini teknologi tersebut diimplementasikan di enam kota dengan kasus DBD yang tinggi.

Pada saat berlangsungnya podcast yang disiarkan secara langsung di akun Instagram @centertropmed, terdapat audiens yang bertanya tentang vaksin DBD. Menjawab pertanyaan tersebut, dr. Nadia menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua jenis vaksin DBD yang keduanya belum masuk dalam program imunisasi nasional. Jadi, jika ada masyarakat yang hendak melakukan vaksinasi DBD, maka hal itu dapat dilakukan secara mandiri.

Pihaknya masih menanti rekomendasi dari World Health Organization (WHO) dan kajian-kajian lainnya jika ingin menerapkan vaksin DBD ini sebagai program nasional.

Dengan semua upaya yang telah dilakukan tersebut, dr. Nadia mengaku masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah mengedukasi masyarakat untuk tidak terlambat mengakses fasilitas kesehatan ketika ada anggota keluarga yang demam.

“Ingat, ada fase pelana kuda,” pesannya.

Ketika demam sudah turun, banyak yang mengira bahwa kondisinya membaik. Padahal turunnya demam itu justru fase menuju keparahan (pre-shock). Karenanya, ia senantiasa mendorong petugas kesehatan untuk mengedukasi masyarakat tentang gejala DBD. Tentu PSN dan 3M juga tetap perlu digiatkan sebagai metode utama pencegahan DBD.

 

Baca juga : Demam Lebih Dari 3 Hari, Kenali Tanda Syok pada DBD

Bayu

Piala AFF 2024 Indonesia Satu Grup dengan Vietnam

Previous article

Piala AFF 2024, Menpora Tidak Ingin Indonesia Dicurangi Wasit

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health