Esai

Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah Karena Smartphone?

0
Minat baca
WhatToReadThisWeekend The Scent Of Sake (foto : Dewi Gunarto)

STARJOGJA.COM, Yogyakarta- Kehadiran smartphone di tangan semua umur membuat minat membaca masyarakat tergerus. Minat baca di Indonesia disebut masih rendah, yaitu menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara berdasarkan study “Most Literred Nation in the World 2016”.

Keprihatinan itu semakin kuat karena dalam beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia lebih mengutamakan pemakaian teknologi digital melalui smartphone. Beragam fitur interaktif membuat masyarakat menggeser pola membaca atau bahkan tidak mau membaca karena lebih asyik bersocial media.

Smartphone  yang menghadirkan internet ke dalam genggaman setiap orang ini tak pelak kian menjauhkan masyarakat dari buku atau bahan bacaan hasil cetakan lainnya.

Baca Juga : Orang Tua kok Mengerjakan PR Anak, Biasa atau Harus?

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 menemukan fakta bahwa hampir 90% layanan yang diakses oleh pengguna internet di Tanah Air untuk layanan perbincangan alias chatting. Setelah itu, 87,13%, untuk media sosial seperti mengunggah foto di Instagram, Facebook, dan platform media sosial lain.

Penggunaan internet untuk pencarian atau search engine berada di urutan ketiga dengan persentase 74,84%. Fakta ini menunjukkan jika semangat atau minat baca masyarakat kini makin terpinggirkan literasi masyarakat masihlah rendah.

Sementara itu hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017 menyebutkan rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku.

Angka ini tentulah sangat rendah. Padahal minat baca yang rendah merupakan masalah mendasar karena itu berkontribusi pada rendahnya produktivitas sebuah bangsa.

Penulis memandang perlu ada upaya-upaya khusus untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia. Tidak harus mengandalkan pemerintah semata, melainkan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Kesadaran membaca bisa dimulai dari keluarga.

Orang tua bisa menyediakan buku bacaan di rumah, terutama untuk anak-anaknya. Memang harus menyisihkan anggaran untuk membeli buku-buku yang cocok dengan kebutuhan anak.Tapi sekali lagi ini adalah investasi bagi masa depan generasi cerdas kita.

Sekolah sebagai sarana pendidikan formal juga perlu lebih berperan. Guru-guru perlu menerapkan sistem pembelajaran berbasis literasi. Kami mendukung program literasi yang ada di sekolah.

Hendaknya ini tidak berhenti pada program semata, namun berjalan secara terus menerus agar anak menjadikan membaca sebagai sebuah kegiatan dan juga kebutuhan.

Pemerintah juga perlu memperbanyak perpustakaan yang bisa diakses oleh masyarakat. Konsep taman bermain bagi anak-anak yang juga menyediakan perpustakaan adalah hal yang baik dan perlu diperbanyak, termasuk di daerah.

Masyarakat juga bisa berperan aktif dengan membuat taman bacaan ataupun perpustakaan kecil di wilayahnya. Dunia usaha pun bisa didorong untuk memberikan CSR nya dalam bentuk perpustakaan atau menyumbang koleksi buku bagi masyarakat.

Membaca bukanlah sebagai sebuah kegiatan nostalgia yang dulu pernah ada. Ada banyak nilai positif yang didapat dari sebuah ritual membaca. Peningkatan minat baca membuat masyarakat Indonesia bisa cerdas dan yang bermuara pada peningkatan kualitas bangsa.

Ayo kembali membaca buku !!

Bayu

Ekspor DIY di Agustus 2018 Meningkat 0,63 persen

Previous article

Selamat Hari Batik Nasional

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai