Flash Info

Hama Ulat Grayak ini Bisa Jelajah 100 Kilometer

0
Hama ulat grayak
Petani menunjukkan hama ulat hijau yang menyerang tanaman bawang merah di lahan perkebunan bawang merah di Kelurahan Werungotok, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (20/9). Puluhan hektar lahan tanaman bawang merah di daerah tersebut rusak akibat terserang hama ulat hijau, sehingga tanaman bawang merah rusak dan mulai membusuk sehingga produksi panen menurun hingga 40 persen. ANTARA FOTO/Rudi Mulya/ed/1nz/4

STARJOGJA.COM, Info – Tanaman Jagung di Nusa Tenggara Timur diserang hama ulat grayak yang ternyata memiliki daya jelajah hingga 100 kilometer. Hal ini memungkinkan bisa menyerang tanaman pangan lain seperti sorgum dan padi.

Mungkin timbul pertanyaan bagaimana mungkin ulat jalannya lelet itu bisa berpindah sejauh 100 kilometer. Harap maklum, yang berpindah itu bukan sang ulat grayak melainkan kupu-kupu hasil metamorfosa dari kepompong ulat grayak.

Berdasarkan informasi dari Agriteknologi Science, hama ulat grayak yang memiliki nama ilimiah fall armyworm (FAW) itu ditemukan pertama kali di Indonesia pada 2018 ketika menyerang Kabupaten Pasaman Barat di provinsi Sumatra Barat. Simak penjelasan selengkapnya dari akun Youtube Agriteknologi Science.

Baca Juga : Hama Ulat Serang Tanaman Bawang Merah, Petani Gagal Panen

Serang NTT

Peneliti Sumber Daya pada Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Dr Tony Basuki mengingatkan pemerintah untuk serius merespons serangan hama ulat grayak, terhadap tanaman jagung milik petani di provinsi berbasis kepulauan itu.

“Hama ini sangat berbahaya. Dua atau tiga ulat saja menyerang satu pohon tanaman mati, Jadi, semua lini sudah harus bergerak untuk melakukan penanganan,” katanya di Kupang, Kamis (6/2/2020) seperti dilaporkan Antara.

Dia mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan seputar kemampuan hama ulat grayak, yang saat ini menyerang tanaman jagung milik petani di NTT.

Menurut dia, hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung saat ini merupakan spesies baru yang masuk Indonesia.

Ia menjelaskan hama ulat grayak ini memiliki kemampuan menjelajah hingga radius 100 km, dan mampu bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama.

“Hama ini umurnya juga cukup panjang. dalam semua fase, hama ini menyerang dengan sangat ganas. Sasaran utama pada titik tumbuh jagung. Kalau sudah diganggu tidak bisa dipulihkan,” katanya.

Dia menambahkan, pada awal Desember 2019, pihaknya mendapat laporan bahwa hama ini menyerang tanaman jagung di beberapa desa di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya, tetapi sampai akhir Januari sudah meluas ke seluruh kabupaten di NTT.

Tanaman lain

Menurut Tony Basuki yang juga Kepala Seksi Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP) ini., hama itu tidak saja menyerang tanaman jagung, tetapi juga berpeluang menyerang tanaman pertanian lain seperti padi dan sorgum.

“Sekarang ini, kebetulan jagung yang lagi siap jadi makanan, sehingga serangan awal ini lebih pada tanaman jagung, tetapi tidak tertutup kemungkinan menyerang padi dan sorgum,” katanya.

Bahkan berdasarkan laporan terbaru, katanya, hama ini tidak saja menyerang daun tanaman jagung, tetapi buah jagung yang masih muda.

Karena itu, pemerintah harus segera merespon dengan menyiapkan skenario untuk menangani masalah ini sejak dini, sehingga tidak terkesan sebagai pemadam kebakaran, demikian Tony Basuki.

Ajaran Budi Pekerti Kunci dari Antisipasi Klitih

Previous article

Pemulangan WNI Mantan ISIS, Kemenag Bantah Dukung

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flash Info