Info Kopi

Kisah Marwiyah Mengolah Kopi Menoreh Menjadi Cuan

0
kopi menoreh
Kopi Pangrango dari Cianjur (foto : Dewi Gunarto)

STARJOGJA.COM, Info – Ibu paruh baya asal perbukitan Menoreh Marwiyah terlihat terampil mengolah kopi layaknya barista. Sebelum mengolah kopi menjadi minuman, Marwiyah sempat berdagang bakso, gorengan, buah, rujak, hingga sembako. Namun dari kesemuanya, tak ada yang benar-benar cocok bagi Marwiyah sampai akhirnya menggeluti usaha kopi.

“Semuanya belum merasa cocok. Terakhir mulai 2007 memutuskan memilih mulai menggeluti usaha kopi. Alhamdulillah saya merasa cocok,” ungkapnya pada Sabtu (28/8/2021).

Marwiyah punya alasan tersendiri, kenapa kopi jadi usaha yang cocok di benaknya. Salah satunya bisa mengolah hasil perkebunan kopi miliknya sendiri menjadi produk jadi dan setengah jadi. “Saya kebetulan suka usaha kopi. Sebetulnya dari sisi penjualan, itu kalau kita survei pasar, orang belanja atau orang jajan hanya 10 persen saja. Tapi karena saya memang suka, sudah menjadi hobi menyukai pekerjaan saya, saya lebih suka usaha kopi,” tuturnya.

“Saya bisa memberdayakan petani kopi. Petani kopi itu bisa bekerja sama dengan kami, itu saya lebih suka.”

Baca juga : Festival Kopi Menoreh Tarik Wisatawan Ke Kulon Progo

Di awal usahanya, Marwiyah tak langsung sukses seperti sekarang. Jika biasanya Marwiyah menjual biji kopinya langsung ke pasar, Marwiyah memulai usahanya dengan mengolah biji keringnya mandiri. “Awalnya saya mengolah biji kering saya yang biasa cuma dijual ke pasar, itu kami olah kemudian kami jadikan bubuk atau bahan untuk dijadikan minuman yang tinggal seduh,” jelasnya.

“Dan packingnya tidak seperti sekarang. Jadi masih plastik bening, kiloan. Packaging-nya belum modern. Sampai sekarang itu prosesnya panjang, selama 12 tahun itu melalui fase proses,” ujarnya.

Kini Marwiyah memiliki beberapa sektor. Di sektor produksi Marwiyah menyetor biji kopi menoreh ke pabrik dan bubuk kopi siap seduh dengan merek dagang miliknya sendiri. “Kami ada beberapa kegiatan, untuk kegiatan produksi dari awal sampai sekarang masih jalan,” jelasnya.

“Kemudian mulai 2012 kami mulai buka kuliner [coffee shop] kopi, yaitu menyajikan berbagi menu kopi. Kita juga membuka paket wisata Coffe Tour mulai dari proses tanam, lalu petik, proses sangrai sampai menjadi bubuk siap saji, diminum hingga dibawa pulang oleh tamu,” ungkapnya.

Promosi

Marwiyah yang bagian dari anggota Koperasi Griya Jari Rasa menunjukkan kebolehannya dalam menyuguhkan kopi lewat demonstrasi di hadapan para anggota dan tamu Edge Resort, Purwosari, Gunungkidul. Jika biasanya Marwiyah hanya menitipkan produk kopi bubuknya ke koperasi, kini ia langsung menyeduhkan kopi secara langsung.

Bak barista, di hadapan Single Group Espresso Machine, Marwiyah memulai demonstrasi dengan menjelaskan karakteristik biji kopi Menoreh dari robusta hingga arabika. Kedua jenis kopi ini ditanam Marwiyah di kebunnya. Para tamu pun antusias mendengarkan paparan Marwiyah mengenai perbedaan bentuk, rasa, warna, dan teknis pembuatan kopi.

Para tamu berkesempatan mencicipi segelas kopi dalam berbagai ragam. Segala permintaan tamu bisa dengan piawai disuguhkan oleh Marwiah. Dari teknik tubruk seduh setengah, seduh maksimal, V-60, vietnam drip, sampai espresso sekalipun.

“Sebagai salah satu kegiatan koperasi, demonstrasi untuk mengenalkan produk-produk anggotanya. Saya berharap pemerintah bisa mendukung sepenuhnya dari mulai budidaya kopi, menambah luasan lahan kopi karena sekarang makin banyak peluang untuk ekspor maupun kebutuhan lokal,” ungkapnya.

Pemilik Warung Kopi Mbak Mar ini juga mengajak masyarakat untuk datang dan menikmati kopi Menoreh khas Kulonprogo yang dikenal memiliki body (rasa ketika masuk ke dalam mulut) yang kuat. “Yang lebih istimewa lagi kalau kopi Menoreh itu aroma moka yang asli tanpa ditambah dengan bubuk cokelat,” tandasnya.

Ketua Koperasi Griya Jati Rasa, Beny Susanto demonstrasi produk anggota koperasi yang mayoritas merupakan pengrajin dan petani akar rumput bakal dijadwalkan berkala. Hal itu untuk mendongkrak produk produksi UMKM DIY dan mengenalkan berbagai kerajinan dan olehan khas Yogyakarta. Beragam produk anggota mulai dari batik, kerajinan kayu, olahan keripik jamur, keripik pisang, hingga bubuk kopi menoreh siap seduh dititipkan ke sejumlah galeri termasuk pasa resort untuk menjangkau pasar mancanegara.

Demonstrasi hanya satu bagian dari upaya koperasi memajukan anggotanya. Jauh sebelum itu, angota sudah diajak memetakan hasil produksi dengan olehan yang bakal dibuat. Mulai dari bentuknya, pengemasannya, pemasaran hingga promosinya. “Karena sesuai dengan namanya koperasi kita punya mandat itu [memajukan anggota],” ujarnya.

Manajer Edge Resort, Hana Yana Risakotta, mengungkapkan minat wisatawan lokal maupun manca terhadap produk titipan koperasi sangat tinggi. Para turis sangat tertarik dengan produk olahan maupun kerajian yang dinilai unik dan tidak ada di negaranya. Saking lakunya, Edge Resort sampai membangun galeri khusus produk-produk kerajian anggota Koperasi Griya Jati Rasa.

“Kami terus tidak ambil untung. Jadi benar-benar tempat kami sediakan untuk mereka. Produk yang dititipkan ke kami tidak ada satu sen pun yang masuk ke kami, jadi benar-benar kami ingin memberdayakan UMKM,” tuturnya.

Hana berharap kegiatan demonstrasi bisa dilakukan dalam produk-produk olahan maupun kerajinan lain. Hal ini dapat menjadi daya tarik wisatawan sekaligus mengenalkan produk Indonesia ke mancanegara. “Kami sangat terbuka dengan apa pun yang mau didemonstrasikan, kami sangat senang. Jadi monggo kalau nantinya ada demo batik atau pun kerajinan lainnya, untuk mengenalkan kerajinan maupun olahan Indonesia ke wisatawan,” pungkasnya.

Sumber : Harianjogja

Bayu

Pentingnya Disiplin Prokes Ketat Saat PTM Terbatas

Previous article

Klarifikasi Kemenkes Soal Dugaan Kebocoran 1,3 Juta Data Aplikasi eHAC

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Info Kopi