News

Sri Mulyani Jelaskan Kenapa Indonesia Masih Terjebak di Middle Income Trap

0
Middle Income Trap
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) bersama Menteri BUMN Erick Thohir (kedua kanan) dan Dirjen Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi (kiri) melihat barang bukti motor Harley Davidson saat konferensi pers terkait penyelundupan motor Harlery Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat baru milik Garuda Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12/2019). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu berhasil mengungkap penyelundupan sepeda motor Harley Davidson pesanan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, I Gusti Ngurah Askhara dan dua sepeda Brompton beserta aksesorisnya menggunakan pesawat baru Airbus A330-900 Neo milik Garuda Indonesia. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

STARJOGJA.COM, Info – Indonesia merupakan negara besar dengan ribuan pulau dan potensi alamnya. Namun kekayaan alam Indonesia ini menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indonesia masih terjebak dalam Middle Income Trap atau pendapatan per kapita menengah.

Dalam paparannya di acara GEMAxLEAD “A Sustainable Future Unveiled Unlocking Strategies for the Emergence Indonesia Emas 2045” oleh Mata Garuda Britania Raya dan Irlandia (MGBI) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di London, Inggris, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, punya banyak sumber daya alam dan manusia.

“Indonesia sebenarnya punya potensi yang besar. Tapi ada elemen yang paling penting tapi intangible yang masih perlu dibenahi adalah institusional,” ujarnya, Senin (6/5/2024).

Menkeu memaparkan dibandingkan dengan negara lain, seperti negara tetangga Singapura, yang merupakan negara kecil dan minim sumber daya, bisa mempunyai pendapatan per kapita sampai US$60.000.

Sementara Indonesia hanya US$5.000. Begitu pula dengan Jepang, dan Inggris yang sama-sama negara kepulauan, atau Korea Selatan yang tahun merdekanya tak berjauhan dari Indonesia, bisa menjadi negara yang maju dengan pendapatan per kapita lebih tinggi. Menurutnya, hal terpenting yang masih perlu dibenahi adalah institusional, yang merancang, kebijakan, regulasi, dan birokrasi di Indonesia.

Dia berpesan kepada para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa LPDP untuk ke depannya bisa kembali ke Indonesia dan membawa poin institusional tersebut untuk membangun Indonesia menjadi negara maju.

“Saya juga yakin kalian bisa baca berbagai literatur mengenai menjelaskan institusi. Seperti apa bagi suatu negara untuk bisa maju dan institusi seperti apa yang dibutuhkan bagi suatu bangsa. Agar tidak menjadi negara yang walaupun dia punya sumber daya tapi dia menjadi negara termiskin di dunia, Afrika tuh banyak yang seperti itu,” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan jika menuju target negara maju di 2045 belum bisa mendesain kebijakan, regulasi, dan birokrasi yang baik, sumber daya di Indonesi, baik alam dan manusia malah bisa tereksploitasi.

“Eksploitasi itu bisa antara domestik dan internasional bekerja sama mengeksploitasi dan kemudian tidak membayar pajak, merusak lingkungan, bayar tenaga kerjanya minimal. Sehingga mereka bisa mengeksploitasi tanpa ada dampak positifnya bagi bangsa,” jelasnya.

 

Sumber : Bisnis

Baca juga : Inovasi dan Digitalisasi di Indonesia Jauh Tertinggal

Bayu

Kalah 4-0 MU Keluar dari Zona Eropa

Previous article

Akhir Mei 2024 Maliq & D’Essentials Siap Merilis Album ke 9

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News