Kota Jogja

Hari Bersastra Yogya Tampilkan Serba-serbi Sastra Jawa

0
Hari Bersastra Yogya

STARJOGJA.COM, Jogja – Hari Bersastra Yogya ke-6 yang diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra akan digelar di kompleks Rumah Baca Ngudi Kawruh, Onggopatran RT 03, Srimulyo, Piyungan, Bantul Sabtu 27 Oktober 2018 pukul 09.00 hingga pukul 23.00 WIB.

Hari Bersastra Yogya ini bertema Sambang Desa “Lawan Sastra Ngesthi Mulya” yang mengedepankan serba-serbi sastra Jawa dalam dua bagian. Pertama adalah Sarasehan dan Pelatihan Sastra Jawa, kedua adalah Pementasan Sastra Jawa.

Mustofa W. Hasyim, Ketua Studio Pertunjukan Sastra mengatakan keberadaan sastra di kampung-kampung merupakan aset bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kekayaan intelektual ini menurutnya harus dijaga dengan melibatkan masyarakat luas sebagai pelaku sastra.

Baca Juga : Tampilkan 5 Tradisi, Festival Upacara Adat DIY Digelar di Kulonprogo

“Pada dasarnya acara ini mengupayakan gerakan literasi di masyarakat, utamanya mengenai jagat sastra Jawa di Yogyakarta. Spirit yang diteladani pada kegiatan ini ialah semangat yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, yakni “lawan sastra ngesthi mulya,” ujarnya kepada Starjogja.com ditulis Kamis (25/10/2018).

Acara ini kerjasama antara Dinas Kebudayaan DIY, Rumah Baca Ngudi Kawruh dan Studio Pertunjukan Sastra. Sukandar koordinator acara ini berkaitan dengan sastra Jawa dan pertunjukan yang lebih mengedepankan sastra Jawa modern.

“Disadari bersama bahwa keberadaan sastra Jawa modern dan sastra Jawa klasik di masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta boleh dibilang tidak berjarak. Macapat masih hadir di komunitas-komunitas kecil di kampung-kampung meski dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang,” katanya.

Sukandar mengatakan melalui acara Hari Bersastra Yogya ini, Studio Pertunjukan Sastra mencoba memberikan tafsir bagaimana sastra Jawa dibaca, direspons, dan dipanggungkan. Tentu saja hal tersebut dapat terwujud dengan memadukan bentuk kesenian lainnya, musik, teater, tari, dan rupa.

“Berusaha menemukan kemungkinan baru dalam merespons dan meyosialisasikan sastra, khususnya sastra Jawa. Tujuannya tentu, menggeliat, njereng kembali apa yang pernah ada dengan tafsir anak-anak hari ini,” pungkas Sukandar.

Bayu

Dokter Harus Adaptasi dengan Revolusi Industri 4.0

Previous article

Istimewanya Video Klip Queen of the Hill by Livi Zheng

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kota Jogja