News

Status Gunung Api Krakatau Jadi Siaga

0
musim hujan
ilustrasi hujan

STARJOGJA.COM, Yogyakarta – Gunung api Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar) dan erupsi sehingga mengeluarkan abu vulkanik yang dirasakan warga di sekitar Banten. Martanto Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava.

“Tanggal 22 Desember, seperti biasa hari-hari sebelumnya, G. Anak Krakatau terjadi letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 – 1500 meter di atas puncak kawah,” katanya dalam rilis yang diterima Starjogja.com Kamis (27/12/2018).

Baca Juga : Warga Serang Rasakan Hujan Abu Vulkanik dari Gunung Anak Krakatau?

Berdasarkan data yang dimilikinya Gunung Anak Krakatau pada pukul 21.03 WIB (22/12) terjadi letusan. Berdasarkan citra satelit yang diterima oleh PVMBG, sebagian besar dari tubuh G. Anak Krakatau telah hilang dilongsorkan, yang kemudian diketahui menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan Banten.

“Pasca kejadian tsunami tersebut, aktivitas G. Anak Krakatau masih tetap tinggi. Secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut,” katanya.

Ia menjelaskan teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat daya. Kegempaan masih didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo mencapai 32 mm (dominan 25 mm).

“Pada tanggal 26 Desember dilaporkan hujan abu vulkanik di beberapa wilayah, yakni di Cilegon, Anyer danSerang. Tim Tanggap Darurat dari PVMBG langsung melakukan cek lapangan, untuk mengkonfirmasikan kejadian tersebut serta untuk menyampling abu vulkanik yang jatuh yang selanjutnya akan dianalisis di Kantor PVMBG,” katanya.

Potensi Bencana Erupsi gunung api  Anak Krakatau, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh gunung api Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Potensi bahaya dari aktivitas gunung api  Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi dan awan panas yang mengarah ke selatan.

“Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin,” katanya.

Ia menjelaskan berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 27 Desember 2018 pukul 05:00 WIB, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung pukul 06:00 WIB.

“Sehubungan dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Saat hujan abu turun, masyarakat diminta untuk mengenakan masker dan kacamata bila beraktivitas di luar rumah,” katanya.

KAGAMACare Kirim Bantuan Kepada Korban Tsunami

Previous article

Konser Sheila On 7 Dihentikan Polda DIY Minta Maaf

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News