Esai

Lari dan 1000 Jam Pengalaman Kehidupan

0
Olahraga ringan
Aktivitas lari di jalanan Yogyakarta (Foto : Arif Adi Setiawan)

STARJOGJA.COM, Yogyakarta – Sore itu teman saya bercerita soal pengalamannya berlari marathon di Bali. Bagaimana ia mampu menyelesaikan ajang lari itu hingga KM 42. Beragam suasana dan drama pun keluar dari mulutnya. Bagaimana ia melewati race yang naik turun, janjian dengan partner lari dan sampai bertemu dengan tim huge (peluk) di garis finish.

Seru, menyenangkan dan pengalaman baru baginya karena track di ajang lari ini cenderung naik turun. Namun track yang cenderung ekstrem ini justru membuat kakinya tidak mengalami kram dan drama lari lainnya. Menurutnya karena track baru ditemuinya yang naik turun tidak membuatnya capek, cidera dan terbebani.

“Biasanya kalo lari itu kakiku garam-garam (sembari memagang kakinya), wah udah putih putih pokoknya. Kalo yang ini ga tuh heran aku kak,” katanya semangat.

Baca Juga : Khabib Nurmagomedov Lawan Conor McGregor Asli Tidak Maya

Sepertinya lari bagi teman saya ini sudah bagian hidup. Setiap hari setiap ketemu dengan saya selalu topiknya adalah lari, lalu lari, dan lari. Sepertinya tidak ada bagian atau topik lainya yang tidak dibahasnya kecuali lari. Selama 10 menit saya duduk disebelahnya tidak ada tema lain kecuali lari yang dibahas.

Senang memiliki teman yang fokus dan mencurahkan semuanya kepada pada satu hal. Sebab kembali teringat guru spiritual saya pernah berkata “Jika kamu memiliki 1000 jam pengalaman maka kamu akan menjadi seorang ahli di bidang itu”.

Teringat juga para penemu yang menemukan temuannya di percobaan yang ke beratus kali. Sebut saja Thomas Alva Edison dan mungkin penemu lainya masih banyak.

Pertanyaannya adalah kalo kita cuma paham satu bidang itu saja bagaimana dong ? Jawabannya tidak masalah. Kembali ke salah satu hadist nabi ajarkan ilmu walaupun satu ayat saja. Walaupun kita paham satu ayat kitab suci dan mengamalkannya pun akan sama hasilnya, luar biasa.

Contoh gini, ini pun sebenarnya bisa jadi panduan orang tua juga sih. Kita hanya suka gambar atau menulis. Sudah saja, tekuni gambar atau menulis itu sampai memiliki pengalaman 1000 jam pengalaman atau bahasa kita jam terbang.

Jika melihat anak sepertinya potensi pada satu bidang ya sudah sebagai orang tua ya maksimalkan potensi itu. Bisa kita ajarkan atau kita les privat. Semua jalan bisa kita lakukan untuk menggali potensi anak atau diri kita.

Sekolah memang tidak semuanya memiliki kesempatan untuk menggali potensi anak didiknya. Namun sebagai orang tua atau kita sendiri mampu menggali potensi itu. Sebab, mengandalkan sekolah tidak akan maksimal.

Pengalaman selama ini sekolah belum merasakan sekolah yang benar-benar paham potensi anak didik. Mungkin tidak banyak saya tahu soal sekolah ini, walaupun hanya sedikit kemungkinan sekolah tu hanya sedikit saya tahu. Salah satunya sekolahnya Habibie dan terakhir Boarding school di daerah Sedayu Bantul.

Biayanya memang mahal sih untuk ukuran pekerja swasta perusahaan kecil. Namun menurut saya pendidikan yang dibangun disana sangat bagus. Saat itu kebetulan bertemu Novia Kolopaking istri Kyai saya Cak Nun.

Menurut dia, sekolah tersebut memiliki kebijakan, moral dan metode pendidikan yang matang. Ia teringat kejadian saat salah satu murid terlambat mengumpulkan tugas. Saat itu muridnya mengejar gurunya untuk mengumpulkan tugas. Padahal ketika terlambat pada pendidikan kita sudah takut setengah mati saat berada di depan guru. Namun tidak di sekolah ini menurut Novia Kolopaking.

“Mister maaf saya terlambat mengumpulkan tugas. Jawaban gurunya waktu itu menurut saya luar biasa, sangat luar biasa. Bayangan saya kan bakal bilang, ‘Makanya jangan banyak ngobrol biar enggak telat ngumpulin.’ Ini enggak lho, jawaban gurunya adalah, ‘Bukan kamu yang salah. Saya yang salah terlalu cepat meninggalkan kelas tanpa melihat bahwa kamu masih ada di dalam dan masih mengerjakan. Maafkan saya,’ sambil benerin baju dan kerahnya anak itu,” ujar Novia kala itu.

Tidak banyak memang pendidikan dengan attitude, etika guru seperti itu.Hmnn mungkin guru itu sudah memiliki 1000 jam terbang. Tapi kenapa berebda dengan guru-guru sekolah yang saya termui ya. jadi bertanya juga sih kenapa? Toh namanya guru juga ya. Mungkin itu PR saya untuk mencari tahu kenapa di tulisan selanjutnya.

Toh seribu jam terbang penting juga tapi juga harus dengan etika dan adab yang benar. Jika teman saya ini memang fokus pada satu hal yaitu lari dan memiliki 1000 jam terbang maka ia akan paham betul saat kutanya soal lari. Termasuk seluk beluk dunia lari yang belum banyak orang tahu. Tapi intinya, jika memiliki 1000 jam terbang pengalaman dengan didasari adab dan etika baik maka hasilnya akan jelas luar biasa.

Jadi bukanlah lari sebagai image saja, hanya untuk kepentingan foto, atau kepentingan syahwat juga dikenal nge-trend. Itu berlaku di semua bidang tidak cumalari tentunya, siaran, marketing, pelukis, jurnalis hingga penjual soto.

NYIA Dipastikan Siap Beroperasi April 2019

Previous article

Bakso Merapi Kalasan, Sehari Mampu Habis Sampai 300 Mangkuk

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai