Solusi Cerdas Berantas Pungli Melalui Seni, Literasi dan Gerakan 3P

4
Solusi Cerdas Berantas Pungli
Ilustrasi Stop Pungli

STARJOGJA.COM, OPINI – Pungutan liar atau biasa disingkat pungli dapat diartikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh oknum atau petugas untuk kepentingan pribadi secara tidak sah atau melanggar aturan yang telah dibentuk oleh pemerintah.

Pungutan liar ini merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang yang memiliki tujuan untuk memudahkan urusan atau memenuhi kepentingan dari pihak pembayar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tindakan tersebut melibatkan dua belah pihak atau bahkan lebih, baik itu pengguna jasa atau pembayar pungutan dengan pihak oknum atau petugas yang melakukan kontak langsung untuk melakukan transaksi terlarang tersebut. Pungli tersebut biasanya terjadi pada pelayanan publik atau di lapangan yang dilakukan secara singkat dan biasanya berupa uang.

Sebenarnya banyak istilah yang sering dipergunakan masyarakat dalam mengartikan pungli tersebut, seperti uang sogokan, uang pelicin, uang semir, salam tempel, uang jasa, uang 3S (Senang Sama Senang), dan sebagainya. Setiap orang dapat melakukan tindakan tercela tersebut tak terkecuali pejabat negara maupun swasta, dimana adanya faktor yang mendorong dan memberikan peluang untuk terjadinya praktik pungutan liar antara lain seperti, pengumpulan dana yang tidak dilindungi oleh UU, sistem yang tidak open management, dan sebagainya.

Pungli menjadi salah satu tindak pidana yang sudah sangat akrab ditelinga masyarakat. Walaupun sebenarnya dalam KUHP atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tidak ditemukan pasal mengenai tindak pidana pungutan liar atau pungli. Tetapi, pada dasarnya pungutan liar dan korupsi merupakan perbuatan yang sama dimana kedua perbuatan ini menggunakan kekuasaan untuk tujuan memperkaya diri dengan cara melawan hukum. Sehingga secara hukum dapat kita temukan di dalam rumusan korupsi pada UU No. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan masih banyak lagi.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengingatkan dan menyadarkan, bahkan mencegah masyarakat dari bahaya pungli maupun korupsi. Salah satu cara tersebut ialah menggunakan karya seni maupun membiasakan literasi antipungli bagi kaum milenial. Untuk seni sendiri bukan hanya indah untuk dinikmati saja, tetapi seni juga dapat mengubah cara pandang seseorang apalagi pemuda untuk melihat suatu permasalahan. Bukan hanya enak dipandang untuk dinikmati tapi juga memiliki nilai moral yang dalam.

Gerakan anti pungli tidak hanya menyampaikan pesan moral anti pungli melalui demonstrasi di jalan saja. Namun, bagi kita para pemuda atau kaum milenial yang berjiwa seni dapat menyampaikan pesan moral anti pungli melalui karya seni yang mengandung pesan moral, pesan keadilan, dan harapan untuk bangsa Indonesia. Upaya inilah yang dilakukan oleh banyak seniman melalui gambar gravity, mural, karikatur, musik serta keindahan karya seni lainnya.

Gerakan anti pungli yang seperti ini perlu kita dukung, upaya pencegahan tindakan pungutan liar melalui karya seni memanglah sangat asik. Karya tersebut bisa berupa desain grafis, poster, videografi, musik, dan media lainnya. Karya-karya tersebut bisa dipublikasikan melalui website, sosial media (sosmed), bahkan YouTube yang akhir-akhir ini sangat booming. Media tersebut sangatlah cocok untuk melakukan upaya kampanye atau pencegahan tindak pungli maupun korupsi melalui media digital.

Apa saja sih jenis seni yang banyak digunakan sebagai wadah gerakan anti pungli maupun anti korupsi?

Ada dua jenis karya seni, yaitu seni murni yang biasanya bersifat personal, sedangkan seni terapan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Para seniman banyak menciptakan karya untuk mengungkapkan kegelisahannya terhadap permasalahan seperti pungli yang sudah membudaya di masyarakat. Untuk para seniman muda diharapkan bisa menginovasi karya-karya seni seperti seni teater, musik, kesenian daerah, mural, karikatur, dan sebagainya. Karya seni tersebut akan selalu berkembang dengan berjalannya waktu dan tak terbatas hanya pada satu media saja.

Dalam berkarya juga memiliki kendala-kendala dalam penyampaian pesan tersebut, kendala yang sering ditemui ialah perbedaan budaya tiap daerah  yang menjadi permasalahan dalam penyampaian pesan melalui karya seni tersebut. Terkadang penyampaian pesan tersebut harus disesuaikan terlebih dahulu dengan kesenian yang cocok untuk daerah itu.Misalnya, menyampaikan isu pungli di Yogyakarta tentunya akan berbedaa dengan di Jakarta. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui karakteristik dari tiap-tiap daerah dan segmentasi target yang akan dituju. Karena tidak semua jenis pesan melalui seni tersebut dapat diterima oleh semua kalangan.

Untuk pengertian dari literasi sendiri adalah kemampuan dari individu untuk membaca, menulis, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, masyarakat, dan bahkan dalam pencegahan tindak pungutan liar tersebut. Sangat miris melihat tindak pungli dan korupsi yang dilakukan oleh masyarakat hingga pejabat daerah di negeri ini yang merusak tatanan birokrasi dan menghambat laju dan kualitas pembangunan bangsa. Di tambah lagi miris melihat masyarakat yang kini tidak bisa membedakan mana berita HOAX dan mana berita yang BENAR. Hanya dengan modal jempol, banyak masyarakat yang termakan HOAX.

Sebagai anak muda atau generasi milenial, kita juga dapat melawan munculnya dan menyebarnya virus pungli ini lewat literasi. Dalam sejarah peradaban kemajuan suatu bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah saja, tetapi juga perlu pengelolaan tata negara yang mapan dan peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Literasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena sosial dengan huruf maupun tulisan (membaca, menulis, menghitung, dan memecahkan masalah).

Melalui literasi ini kesadaran dan budaya anti pungli dapat tercipta secara beradab dan tak membosankan. Literasi dapat menumbuhkan daya pikir kritis. Literasi disini bisa berupa bentuk karya sastra seperti, puisi, pantun, cerpen, dan novel. Karya dalam jenis tersebut dapat menjembatani kritik kita pada orang lain yang melakukan tindak pungli tanpa membuatnya malu. Maka kekuatan tulisan atau tulisan dapat menghentikan getaran gelora pungli dari oknum pungli maupun pelaku korupsi tersebut, sehingga dapat mengurangi pelaku pungli secara signifikan.

Selain literasi menyerang para pelaku pungli secara beradab, literasi juga menjadi wahana penanaman awal kepada anak-anak tentang nilai atau karakter yang harus ditanamkan pada diri kita, nilai-nilai ini dapat menghindarkan mereka dari tindakan pungli, atau dapat membangun jiwa semangat anti pungli.

Anak-anak memiliki kecenderungan mudah meniru, bila di rumah, di sekolah tersedia buku literasi atau bacaan gambar yang menarik tentu mereka akan tertarik membaca dan tak menyadari bahwa nilai-nilai baik telah masuk di alam bawah sadarnya.

“Rahma Lari Sembunyi Dibilik

 Arwan Datang Membawa Mawar

 Mari Tingkatkan Pelayanan Publik

 DI Yogyakarta Bebas Pungutan Liar”

“ Pergi Ke Pasar Membeli Cangkul

  Jangan Lupa Mengendarai Viar

  Mari Kita Segera Berkumpul

  Dalam Gerakan Sapu Bersih Pungutan Liar”

Pantun di atas merupakan contoh literasi berupa pantun yang berisi tentang pencegahan atau ajakan untuk menghindari tindakan pungutan liar. Tidak hanya melalui seni dan literasi saja, dalam mendidik anak, kita harus menanamkan nilai-nilai anti pungli dalam diri anak dengan membiasakan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-harinya. Nilai anti pungli tersebut dapat dijabarkan di bawah ini.

Jujur

Kejujuran sangatlah penting ditanamkan pada diri anak, definisi jujur sendiri ialah sebuah tinakan maupun ucapan yang lurus sesuai dengan fakta yang ada, tidak berbohong dan tidak curang. Jujur inilah merupakan kunci utama dalam menanamkan nilai anti pungli pada diri anak.

Contoh, beri pelajaran bagi anak bahwa kecurangan itu mendapat dosa yang besar, agar anak tersebut terbiasa jujur, seperti tidak mencontek dalam ujian, dan sebagainya.

Peduli

Jiwa peduli sebaiknya ditanamkan sejak kecil, ajari anak tentang bagaimana cara peduli kepada sesama, seperti mengajarkan kepada anak agar mau berbagi terhadap teman, mau menolong teman yang sedang dalam kesulitan dan sejenisnya.

Tanggung Jawab

Ajari anak tentang bagaimana menanggung atau melaksanakan konsekuensi dengan apa yang ia perbuat. Seperti, membiasakan atau mendidik anak untuk membereskan tempat tidur, mengerjakan PR, sholat tepat waktu, berani minta maaf terhadap teman jika berbuat salah.

Berani

Rasa berani dan percaya diri dapat dibangun dengan membiarkan anak belajar dari kesalahan. Misalnya menegur teman yang membuang sampah sembarangan, membela teman yang diejek ataupun dibully, mengajarkan anak bela diri dan seterusnya.

Bersyukur

Beri contoh anak agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberi oleh Allah SWT, dengan cara merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Dan ajarkan pada anak agar selalu hemat dan rajin menabung.

Displin

Ajari mereka agar disiplin waktu, dan disiplin pada peraturan. Beri mereka contoh agar tidak menunda sholat, tidak menunda mengerjakan PR, rapi saat berpakaian, dan sebagainya.

Keenam nilai integritas tersebut sebaiknya ditanamkan kepada anak sejak dini, agar mereka terbiasa dan mampu mengontrol diriny untuk selalu disiplin, jujur, berani, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Selain menjadi karakter anak yang baik, nilai tersebut dapat menjadi upaya kita untuk mencegah dan mengurangi tindak pungutan liar untuk saat ini dan di masa yang akan datang.

Gerakan 3P Bagi Pemuda Zaman Now Dalam Mencegah Pungutan Liar

Memberantas tindak pungutan liar merupakan tanggung jawab bagi seluruh masyarakat khususnya elemen pemuda, yang merupakan generasi penerus yang memiliki jiwa perubahan dan semangat yang tinggi. Dalam pemberantasan tindak pungli tersebut ada tiga aspek yang mesti dilakukan, aspek tersebut bisa kita sebut 3P, apa yang dimaksud 3P itu?, pertama adalah Penindakan, kedua adalah Pencegahan, dan ketiga adalah Pendidikan. Gerakan 3P tersebut wajib berjalan selaras untuk meraih hasil yang optimal. Keselarasan 3P tersebut harus dilandasi dengan kesadaran dan komitmen dari pemuda di negeri ini.

Dalam P pertama yaitu Penindakan, pemuda mesti aktif dalam melaporkan segala sesuatu yang berbau pungli kepada tim yang berwenang yaitu tim SATGAS SABER PUNGLI atau Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar, dan pada P yang kedua yaitu Pencegahan, pemuda dapat melibatkan diri dari hal-hal yang kecil, peran tersebut dapat dimulai dengan toleransi terhadap orang lain, menghargi pendapat orang lain. Menanamkan jiwa anti pungli pada diri sendiri, dan sejenisnya. Untuk P yang ketiga yakni Pendidikan, pendidikan ini dapat diterapkan sejak dini, atau sesuai dengan 6 nilai integritas di atas. Atau dengan diadakannya seminar-seminar anti pungli dan korupsi, dialog, debating, dan pembelajaran pendidikan lainnya.

Peran pemuda dalam Gerakan 3P ini wajib berprogres, pemuda harus mampu melawan dirinya untuk tidak ikut serta menikmati hasil dari pungutan liar.

MARI BERSATU DAN BERKUMPUL DALAM GERAKAN SAPU BERSIH PUNGLI di DIY

* Artikel ini adalah peserta Lomba Karya Tulis Anti Pungli 2019.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here